AMBARA – Kalau biasanya kita bicara soal “Satu Data” atau “Satu Paspor,” kali ini kita bicara soal “Satu Modus” yang bikin bulu kuduk berdiri. Di Lombok Timur, sebuah Pondok Pesantren yang harusnya jadi tempat paling aman buat belajar agama, mendadak jadi sorotan setelah pimpinannya dilaporkan ke Polda NTB.
Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram resmi membawa kasus ini ke meja polisi pada Kamis (29/1/2026). Masalahnya bukan soal kurikulum yang telat update, tapi soal dugaan tindakan asusila dengan bumbu manipulasi yang sangat… well, sangat berani.
Tutorial Manipulasi: Pakai Dalih ‘Bersih Rahim’
Bayangkan, Anda adalah santriwati yang lagi semangat-semangatnya menimba ilmu. Terus, ada otoritas tertinggi di sekolah yang bilang kalau rahim Anda perlu “dibersihkan.” Bukannya dibawa ke dokter spesialis, tapi malah dijadikan celah buat eksploitasi seksual.
Menurut Joko Jumadi dari LPA Mataram, korbannya saat ini terdeteksi dua orang. Kejadiannya sudah lima tahun lalu saat mereka masih berseragam Madrasah Aliyah. Tapi yang namanya trauma itu nggak punya masa kedaluwarsa. Bahkan setelah korban menikah pun, si oknum ini dilaporkan masih terus memperdaya mereka sampai depresi berat. Ini bukan cuma soal nafsu, ini soal dominasi psikologis yang bikin korbannya merasa “nggak punya jalan keluar.”
Strategi ‘Pagar Sebelum Hujan’
Yang bikin geleng-geleng kepala adalah persiapan si pelaku. Ibarat politisi yang sudah tahu bakal kena reshuffle, oknum pimpinan ini diduga sudah menyebar narasi ke jemaahnya kalau dirinya bakal “difitnah.”
Ini strategi public relations yang cerdas sekaligus jahat. Dengan menanamkan benih “saya dizalimi” sejak awal, pengikutnya bakal otomatis pasang badan begitu kasusnya meledak. Jadi, saat korban bersuara, jemaah nggak bakal lihat fakta, tapi lihatnya “serangan kepada guru besar.” Sebuah taktik gaslighting massal yang bikin korban makin ciut buat bicara.
Jangan Merem Pas Ada yang Teriak
Kita semua mendukung kemajuan pendidikan, tapi kalau di dalamnya ada predator yang pakai jubah “kesucian,” ya harus disikat. Polda NTB lewat Kombes Pol Ni Made Pujawati memang bilang masih mau cek laporan ini, tapi publik sudah telanjur pasang mata.
Di negeri AMBARA ini, kita belajar bahwa kejahatan paling ngeri bukan yang dilakukan di lorong gelap, tapi yang dilakukan di bawah lampu terang sambil mengutip ayat-ayat suci. Kalau pimpinan negara saja berani “merem” buat nggak lihat nama teman di daftar pelanggar demi keadilan, masa kita mau “merem” pas ada santriwati yang masa depannya dihancurkan pakai dalih pembersihan rahim?
Gak lucu, Bos. Benar-benar gak lucu.




