Bagi Gen Z Aceh, ia adalah politisi. Tapi bagi generasi 97, ia adalah ‘Mualem’ yang pernah gagal masuk TNI, lalu memimpin komando tertinggi Gerakan Aceh Merdeka.
Coba tanya anak muda Aceh yang baru menginjak usia 20-an hari ini: “Siapa itu Mualem?”
Kemungkinan besar, jawaban yang muncul adalah: “Oh, dia Gubernur Aceh yang baru dilantik 2025 itu, kan?”
Mereka benar. Muzakir Manaf, lahir 3 April 1964, memang baru dilantik sebagai Gubernur Aceh periode 2025–2030. Tapi, bagi generasi yang tumbuh sebelum Perjanjian Helsinki, Muzakir Manaf bukan hanya soal kursi kekuasaan. Ia adalah Mualem—sebuah magnet politik yang kisahnya terukir dari hutan belantara hingga ruang rapat pemerintahan.
Dari Gagal Masuk TNI, Hingga Komando Libya
Kisah Muzakir Manaf, putra pasangan Manaf dan Zubaidah dari Mane Kawan, Aceh Utara, dimulai dengan ironi.
- Gagal jadi TNI: Setelah lulus SMA, Mualem sempat mendaftar menjadi anggota TNI. Namun, dia gagal.
- Jalan Perlawanan: Penolakan itu justru membawanya ke Malaysia, di mana ia mendaftar—dan lolos—menjadi pejuang Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
- Pelatihan Tempur: Pada tahun 1986, Mualem berangkat ke Libya, tempat ia menerima pelatihan tempur bersama anggota GAM lainnya.
Kariernya di GAM melesat cepat. Setelah gugurnya panglima GAM, Abdullah Syafi’i, pada tahun 2002, Muzakir Manaf diangkat menjadi panglima komando pusat GAM, sekaligus panglima tertinggi militer GAM.
Transisi Paling Dramatis: Meja Runding ke Kursi Wagub
Tahun 2005 menjadi titik balik terbesar dalam sejarah Aceh, dan juga dalam hidup Mualem. Setelah Perjanjian Helsinki ditandatangani, Mualem keluar dari persembunyian untuk pertama kalinya dan tampil di depan publik.
- Lembaga Politik: Mualem kemudian menjadi ketua Komite Peralihan Aceh, mendirikan Partai Gerakan Aceh Mandiri (yang kemudian berganti nama menjadi Partai Aceh), dan menjadi ketua umum pertamanya.
- Kursi Eksekutif: Transisi ke pemerintahan dimulai pada 2012. Ia mencalonkan diri sebagai calon wakil gubernur bersama Zaini Abdullah, memenangkan Pilkada dan dilantik sebagai Wakil Gubernur Aceh periode 2012–2017.
Magnet Loyalitas: Dari Konflik Hingga Pilkada
Popularitas Mualem tidak pernah pudar, terutama di kalangan mantan kombatan GAM. Sebuah data anekdotal membuktikan loyalitas ini:
- Insiden Din Minimi: Bahkan setelah Mualem menjabat Wakil Gubernur, dalam konflik bersenjata yang dipimpin oleh Din Minimi, Din menolak untuk dibawa ke Jakarta atau Banda Aceh, kecuali Mualem sendiri yang menjemputnya. Loyalitas seperti ini tidak bisa dibeli dengan jabatan, melainkan dibentuk di palagan perang.
Meskipun sempat kalah dalam Pilgub 2017 (walaupun timnya sempat mengklaim kemenangan), popularitasnya tak tergoyahkan.
- Keputusan Kritis 2024: Pada Pemilu 2024, ia membuat keputusan politik yang kontroversial namun strategis, yaitu menyatakan dukungan kepada Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, meskipun latar belakang Prabowo bertolak belakang dengan sejarah GAM.
Pada akhirnya, ia memenangkan Pilgub Aceh 2024, dan kini menjabat Gubernur dan juga Waliyul ‘Ahdi Lembaga Wali Nanggroe Aceh sejak 27 Desember 2022.
Muzakir Manaf adalah simbol hidup dari transisi Aceh—dari konflik bersenjata ke panggung politik. Kisahnya adalah tentang kekuatan grassroots dan loyalitas yang teruji. Bagi anak muda Aceh, Mualem adalah Gubernur. Bagi sejarah, ia adalah Panglima. Dan bagi politik Aceh, ia adalah tokoh yang berhasil membawa kekuatan hutan ke meja pemerintahan, siap memimpin Aceh hingga 2030.
(dari berbagai sumber)




