JAKARTA — Keputusan Presiden Prabowo Subianto memerintahkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk berburu minyak ke seluruh penjuru dunia adalah sebuah manuver “diversifikasi darurat”. Di tengah tertahannya tanker Pertamina di Selat Hormuz, Jakarta tidak memilih jalan pintas dengan meminta “suaka energi” kepada Teheran. Pilihan ini merefleksikan doktrin luar negeri Prabowo yang pragmatis: Indonesia tidak ingin terjebak dalam utang budi geopolitik yang dapat mengunci posisi tawar negara di hadapan blok Barat dan sekutu regional lainnya.
Keengganan untuk “meminta tolong” secara khusus kepada Iran bukan berarti putusnya hubungan diplomasi, melainkan upaya menghindari ketergantungan pada satu titik tunggal (single point of failure). Jika Malaysia di bawah Anwar Ibrahim memilih lobi langsung untuk mendapatkan “izin melintas”, Indonesia justru memilih untuk memperluas jaring pasokan. Ini adalah pengakuan pahit bahwa Selat Hormuz telah menjadi wilayah yang terlalu volatil untuk dijadikan tumpuan hidup energi nasional yang cadangannya hanya bertahan 26 hari.
Alasan Strategis: Menghindari Jebakan Sanksi dan Ketergantungan
Ada tiga alasan utama mengapa Prabowo lebih memilih diversifikasi global daripada sekadar konsesi dari Iran. Pertama, Kepatuhan Sanksi Sekunder; keterlibatan transaksional yang terlalu dalam dengan Iran berisiko memicu sanksi dari Amerika Serikat yang dapat melumpuhkan sistem perbankan nasional. Kedua, Logistik dan Asuransi; meskipun Iran mengizinkan lewat, perusahaan asuransi kapal global tetap akan mematok premi selangit untuk jalur Hormuz, membuat harga minyak tetap tak ekonomis.
Ketiga adalah Diversifikasi Pasokan; Bahlil diperintahkan mencari minyak dari Afrika, Amerika Latin, hingga Asia Tengah untuk menciptakan portofolio energi yang “tahan cuaca” (all-weather energy portfolio). Prabowo sedang menerapkan prinsip Ray Dalio dalam ketahanan energi: jangan pernah menaruh semua telur dalam satu keranjang, apalagi keranjang yang berada di tengah api peperangan.
GetNews Strategic Audit: Global Oil Hunting vs Hormuz Lobby
Analisis terhadap efektivitas pencarian pasokan alternatif dibanding lobi regional:
Vonis Redaksi: Membeli Kedaulatan, Bukan Sekadar Minyak
Langkah Prabowo meminta Bahlil mencari minyak “ke seluruh dunia” adalah pernyataan kedaulatan. Indonesia menolak untuk didikte oleh situasi di satu selat. Dengan tidak meminta “tolong” secara khusus kepada Iran, Jakarta sedang menjaga jarak aman agar tidak terseret lebih dalam ke dalam polarisasi konflik Timur Tengah. Minyak bisa dibeli dari mana saja, tetapi integritas kebijakan luar negeri yang bebas aktif tidak bisa ditukar dengan konsesi jalur tanker sementara. Prabowo memilih jalur sulit yang menjamin kemandirian, daripada jalur mudah yang menggadaikan posisi strategis bangsa.
BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:
2034 – Saat Kesalahan Kecil Membakar Dunia



