AMBARA

Negara Kaya, yang Kenyang Cuma 10 Orang Saja

​Bayangkan kita sedang mengadakan hajatan besar di kampung. Seluruh warga patungan, masaknya gotong royong, dan bahan-bahannya diambil dari kebun kolektif milik warga. Eh, begitu nasi kuning sudah matang dan tumpeng sudah berdiri tegak, tiba-tiba ada 10 orang tamu tak diundang masuk, mengambil posisi paling depan, lalu menghabiskan seluruh lauk pauk sampai rempah-rempahnya. Sisanya? Warga disuruh antre buat kerupuk dan sambal yang sudah mulai basi.

​Itulah kira-kira gambaran “Kedaulatan Ekonomi” kita yang baru saja dibocorkan oleh Pak Menhan Sjafrie Sjamsoeddin. Angkanya nggak main-main: Rp5.770 triliun menguap. Itu nolnya ada dua belas, Bung! Kalau uang segitu dipakai buat traktir rakyat Indonesia makan bakso, mungkin kita semua bakal kekenyangan sampai tahun 2045.

Legal di Luar, Ilegal di Dalam

​Pak Menhan bilang ada pengusaha yang tampilannya rapi, legal, punya izin, dan mungkin sering masuk majalah bisnis sebagai “sosok inspiratif”. Tapi di balik layar, praktiknya justru mengeruk kekayaan alam kita secara ugal-ugalan. Ini seperti melihat orang pakai jas di depan kamera, tapi tangannya sibuk mengambil dompet orang-orang di sekitarnya.

​Timah, sawit, tambang—semua dikeruk. Kita sering dengar jargon “Kekayaan Alam untuk Sebesar-besar Kemakmuran Rakyat”, tapi rupanya yang dimaksud “Rakyat” di sini adalah 10 orang pengusaha besar tadi. Sembilan puluh sembilan persen sisa penduduk Indonesia cuma kebagian debu tambang dan polusi asapnya saja.

​Berikut audit singkat biar kita paham betapa ngerinya “kebocoran” ini:

AUDIT STRATEGIS GETNEWS: Bocor Halus atau Bocor Bandang?
IndikatorData Resmi (Menhan)Realita AMBARA
Pelaku Utama10 Pengusaha Besar.Satu meja makan, tapi porsinya buat 280 juta orang.
Nilai KebocoranRp 5.770 Triliun.Angka yang cukup buat bikin miskin mendadak jadi mitos.
Metode MainBerkedok legal tapi praktik ilegal.Main petak umpet sama aparat, tapi yang sembunyi cuma hatinya.
Data: GetNews Intelligence Unit (Processed from Menhan Statement)

Jangan Sampai Satgas PKH Cuma “Ganti Baju”

​Pak Menhan janji mau “menyikat” semua tambang ilegal. Kita dukung penuh, Pak! Tapi masalahnya, di negeri ini, sikat-menyikat itu kadang tergantung siapa yang pegang gagang sikatnya. Jangan sampai yang disikat cuma “pemain receh”, sementara 10 orang yang menguasai ekonomi tadi justru dikasih sabun buat mandi mewah.

​Kedaulatan ekonomi bukan soal angka-angka di laporan BPS saja. Kedaulatan itu adalah ketika emak-emak nggak perlu antre minyak goreng di negeri yang kebun sawitnya seluas samudera. Kedaulatan itu adalah ketika kekayaan alam nggak cuma lari ke rekening luar negeri, tapi balik ke piring makan rakyat.

​Selamat berjuang, Pak Menhan. Kami tunggu “sikatannya”. Semoga kali ini kedaulatan kita nggak cuma menang di teks pidato, tapi juga menang di perut rakyat yang sudah lama keroncongan melihat tumpengnya dijarah 10 orang sakti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *