NEWS

Operasi Senyap di Balik Teror Digital Ketua BEM UGM

Tiyo Ardianto, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), mengungkapkan rangkaian intimidasi sistematis yang menimpa dirinya dan keluarga pasca melontarkan kritik keras terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) milik pemerintahan Prabowo-Gibran. (Istimewa)

YOGYAKARTA — Kebebasan akademik di Indonesia kembali memasuki masa kelam. Tiyo Ardianto, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), mengungkapkan rangkaian intimidasi sistematis yang menimpa dirinya dan keluarga pasca melontarkan kritik keras terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) milik pemerintahan Prabowo-Gibran.

​Dalam diskusi Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA), Selasa, 17 Februari 2026, Tiyo membeberkan bahwa serangan bermula sejak 9 Februari lalu. Polanya seragam: pembunuhan karakter melalui teknologi kecerdasan buatan (AI) dan ancaman fisik dari nomor asing dengan kode area Inggris Raya (+44).

​”Ada konten yang di-generate menggunakan AI dengan narasi saya menyewa LC karaoke dan tuduhan LGBT. Serangan ini sangat menjijikkan karena menyerang sisi personal untuk mendelegitimasi kritik kebijakan yang kami sampaikan,” ujar Tiyo.

​Bagian paling krusial dari teror ini adalah keterlibatan infrastruktur digital yang menyasar keluarga. Ibunda Tiyo, seorang perempuan desa di lingkungan sederhana, menerima pesan tengah malam yang menuduh anaknya menilap uang kemahasiswaan. Penggunaan diksi “Presiden Bodoh” oleh BEM UGM disebut Tiyo sebagai kritik terhadap inkompetensi infrastruktur kekuasaan yang tidak menghargai ilmu pengetahuan, bukan serangan personal terhadap kognisi Prabowo Subianto.

​Para aktivis kebebasan akademik menilai, penggunaan rekayasa digital dan pelacakan nomor ponsel keluarga menunjukkan bahwa pelaku memiliki akses ke perangkat intelijen atau cyber-surveillance yang melampaui kapasitas pendengung (buzzer) biasa.

Strategic Audit: The Red Investigation

Metode SeranganVonis GetNews
AI-Generated DeepfakeBerbahaya. Penggunaan AI untuk memfitnah mahasiswa menandakan peningkatan teknologi “pembungkaman” yang sulit dilacak publik.
Intimidasi KeluargaPsikologis. Menyasar orang tua di desa adalah taktik pengecut untuk menciptakan tekanan internal agar mahasiswa berhenti bersuara.
Nomor Luar Negeri (+44)Anonimitas Sistemik. Penggunaan nomor virtual internasional menunjukkan adanya modal finansial di balik operasi teror ini.

Catatan Redaksi:

Kasus Tiyo Ardianto bukan sekadar urusan personal, melainkan ancaman terhadap demokrasi. GetNews mendesak pihak universitas dan aparat penegak hukum untuk tidak hanya diam melihat mahasiswa “disembelih” secara digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *