MATARAM – Bagi provinsi kepulauan seperti Nusa Tenggara Barat (NTB), bencana bukan sekadar anomali cuaca atau geologi, melainkan variabel tetap dalam persamaan ekonomi. Dalam peluncuran Rencana Kerja Tahunan (RKT) 2026 bersama program SIAP SIAGA (Kemitraan Australia-Indonesia), Pemerintah Provinsi NTB menegaskan bahwa “Ketangguhan Bencana” adalah prasyarat mutlak untuk mencapai ambisi “Makmur Mendunia” yang termaktub dalam RPJMD 2025–2029.
Langkah ini menandai pergeseran paradigma dari manajemen krisis yang reaktif menuju tata kelola risiko yang preventif dan terintegrasi.
Investasi dalam Ketangguhan
Sekretaris Bappeda NTB, Baiq Yunita Puji Widiani, menekankan bahwa penanggulangan bencana adalah urusan ekonomi yang serius. Risiko yang terkendali adalah magnet bagi investasi, khususnya di sektor pariwisata dan energi terbarukan yang menjadi tulang punggung visi NTB ke depan.
Melalui kolaborasi dengan SIAP SIAGA yang telah terjalin sejak 2021, NTB kini memfokuskan tahun 2026 pada penguatan sistem peringatan dini, kesiapsiagaan masyarakat, dan adaptasi perubahan iklim berbasis ekosistem. Ambisinya tidak tanggung-tanggung: menjadikan NTB sebagai “Laboratorium Kebijakan Adaptasi Iklim” berbasis kepulauan di tingkat global.
Diplomasi Ketangguhan: Kemitraan Australia-Indonesia
Catherine Meehan dari Kedutaan Besar Australia dan Lucy Dickinson (Team Leader SIAP SIAGA) menegaskan bahwa efektivitas program ini terletak pada kemitraan jangka panjang, bukan sekadar aktivitas ad-hoc. Australia melalui DFAT berkomitmen memastikan bahwa investasi bersama ini benar-benar berdampak pada kelompok paling rentan melalui prinsip GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion).
Penyelarasan antara rencana kerja internasional dengan dokumen perencanaan daerah (RKPD) menjadi kunci agar intervensi tidak berdiri sendiri, melainkan memperkuat sistem yang sudah ada. Kepala Pelaksana BPBD NTB, Sadimin, mengonfirmasi bahwa pola ini telah berhasil memperkuat koordinasi lintas kabupaten, terutama di wilayah prioritas seperti Lombok Utara dan Sumbawa.




