YOGYAKARTA – Gelanggang intelektual Universitas Gadjah Mada (UGM) memanas. Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM secara terbuka melayangkan tantangan debat langsung kepada Presiden Prabowo Subianto. Langkah provokatif ini diambil sebagai respons atas rentetan kebijakan pemerintah yang dinilai memerlukan klarifikasi publik di hadapan civitas akademika.
BEM UGM menegaskan bahwa kampus adalah ruang sakral untuk menguji kebijakan melalui nalar, bukan sekadar menerima pernyataan sepihak dari menara gading kekuasaan. “Kami mengundang Presiden untuk hadir, berdiskusi, dan mempertahankan gagasannya secara rasional di hadapan ribuan mahasiswa,” ujar Ketua BEM UGM dalam keterangannya.
Tantangan ini menjadi simbol eskalasi keberanian mahasiswa dalam menjalankan fungsi kontrol sosial. Di ruang publik, seruan ini memicu polarisasi: sebagian menganggapnya sebagai manifestasi demokrasi kampus yang sehat, sementara yang lain meragukan efektivitas debat antara mahasiswa dan kepala negara dalam struktur protokoler kepresidenan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Istana belum memberikan respons resmi terkait undangan “adu gagasan” di Bulaksumur tersebut. Namun, wacana ini telah menjadi diskursus liar di media sosial, menegaskan kembali posisi mahasiswa sebagai aktor krusial dalam dinamika politik nasional 2026.
Baca juga: The Washington Dozen: Saat Pemilik Chelsea dan Inter Milan Antre di Meja Danantara
Tak kalah menarik: Tragis! Perputaran Uang di Dapur MBG Jauh Lebih Besar Ketimbang di Pemerintahan
Tambahan amunisi: Lawatan ke Washington, Presiden Prabowo Kantongi Kesepakatan Investasi US$ 38,4 Miliar
BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:
RSUD NTB dan Koleksi ‘ASN Siluman’: Ketika Data Lebih Horor daripada Film Pengabdi Setan



