JAKARTA — Ketegangan di Selat Hormuz memakan korban jiwa dari kalangan sipil Indonesia. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI pada Minggu, 8 Maret 2026, mengonfirmasi insiden ledakan dan kebakaran hebat yang menimpa kapal Musaffah 2. Peristiwa yang terjadi pada Jumat dini hari tersebut menyebabkan tiga warga negara Indonesia (WNI) hilang di perairan konflik, sementara satu lainnya menderita luka bakar serius.
Juru Bicara Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, menyatakan bahwa Jakarta mendesak otoritas internasional untuk melakukan penyelidikan menyeluruh. Insiden ini terjadi saat kapal berbendera Uni Emirat Arab (UEA) tersebut sedang melakukan pengecekan teknis terhadap kapal kontainer Safeen Prestige di perairan antara UEA dan Oman—sebuah zona yang kini menjadi titik panas militer global.
Kronologi di Zona Bahaya
Ledakan terjadi sekitar pukul 02.00 waktu setempat. Dari total tujuh ABK di Musaffah 2, empat di antaranya adalah WNI. Selain itu, terdapat satu teknisi WNI yang beruntung selamat karena sedang berada di atas kapal kontainer saat ledakan terjadi.
Nasib tiga pelaut lainnya kini bergantung pada operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) yang melibatkan otoritas Abu Dhabi dan Muscat. KBRI telah menerjunkan tim untuk memastikan satu WNI yang selamat mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit Kota Khasab, Oman, akibat luka bakar yang diderita.
Diplomasi Krisis: Desakan Penyelidikan
Yvonne menegaskan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan insiden ini menguap tanpa kejelasan hukum. Koordinasi intensif sedang dilakukan dengan pihak perusahaan kapal untuk mengungkap penyebab pasti ledakan—apakah murni kecelakaan teknis atau terkait dengan eskalasi serangan udara Operation Lion’s Roar yang sedang berkecamuk di kawasan tersebut.
Kemlu juga mengeluarkan mandat siaga satu bagi seluruh WNI di Timur Tengah, khususnya para awak kapal yang melintasi jalur logistik energi dunia, untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra di tengah “hujan” rudal balistik dan drone yang kerap menyasar infrastruktur maritim.
Catatan Akhir: Biaya Manusia di Jalur Perang
Insiden Musaffah 2 menegaskan bahwa keselamatan pekerja migran Indonesia, terutama di sektor maritim, kini berada di titik nadir akibat konflik Timur Tengah. Jakarta tidak hanya menghadapi tantangan pembebasan kargo energi (seperti pada kasus tanker Pertamina), tetapi juga krisis kemanusiaan yang lebih dalam. Jika penyelidikan mengungkap adanya keterlibatan pihak militer dalam ledakan ini, maka Indonesia harus menaikkan level tekanan diplomatik untuk menjamin koridor aman bagi warga sipil di Selat Hormuz.
Verified Source: KEMLU
BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:
Prabowo dan Jurus ‘Muter-Muter’ di Tengah Perang AS-Iran



