TANJUNG — Di bawah terik matahari Alun-Alun Tanjung, sebuah narasi baru sedang disusun. Jum’at, 20 Februari 2026, Kabupaten Lombok Utara (KLU) resmi mengetuk palu sejarah dengan mendeklarasikan diri sebagai pusat Peradaban Kurma Dunia. Sebuah langkah yang, meminjam istilah militer, adalah penetrasi pasar agrikultur yang sangat berani.
Deklarasi ini melibatkan sinergi lintas sektoral: dari Bupati, TNI-Polri (Kodim 1606/Mataram), akademisi, hingga masyarakat akar rumput. Di Bumi Tioq Tata Tunak, kurma bukan lagi dipandang sebagai “buah padang pasir” yang eksklusif, melainkan komoditas masa depan yang diharapkan mampu mengubah lanskap ekonomi daerah.
Analisis Get Insight: Menakar Potensi Arid-Land Farming
Secara geografis, Lombok Utara memiliki karakteristik lahan yang relatif kering di beberapa titik, yang secara teoritis cocok untuk pengembangan tanaman zona arid. Investasi pada pohon kurma adalah investasi jangka panjang. Jika dikelola dengan sentuhan sains (seperti teknik kultur jaringan yang disinggung akademisi), KLU bisa menciptakan ceruk pasar baru di Indonesia—negara dengan populasi Muslim terbesar yang selama ini menjadi importir kurma kelas berat.
Namun, tantangannya tetap pada efisiensi rantai pasok dan edukasi petani. Mengubah pola pikir petani dari tanaman musiman ke tanaman keras seperti kurma membutuhkan napas panjang secara finansial dan teknis.
Vonis Redaksi:
Mendengar kata “Peradaban Kurma Dunia” di KLU itu rasanya seperti mendengar tetangga bilang mau bikin lapangan salju di pinggir pantai. Awalnya terdengar ambisius (atau malah halu?), tapi kalau melihat semangat Pak Bupati dan jajaran TNI-Polri yang ikut turun tangan, rasanya ini serius. Memang lebih baik menanam kurma daripada menanam janji politik yang nggak tumbuh-tumbuh. Kalau berhasil, kita nggak perlu lagi nunggu kiriman dari Timur Tengah buat buka puasa. Sante, lur! Semoga kurma KLU segera berbuah, semanis harapan warganya.




