JAKARTA — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) secara resmi meluncurkan serangan balik terhadap ketergantungan pasokan pangan dari luar daerah. Pada Senin, 9 Maret 2026, Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan BUMN Pangan ID FOOD di Jakarta. Langkah ini menandai dimulainya babak baru hilirisasi sektor peternakan melalui pembangunan industri ayam terintegrasi senilai Rp1,2 triliun.
Proyek yang berpusat di Desa Serading, Kabupaten Sumbawa ini bukan sekadar pembangunan fasilitas fisik, melainkan rekayasa ekosistem untuk meruntuhkan dominasi pemain besar pada sektor bibit (DOC) dan pakan yang selama ini menjepit ruang gerak peternak rakyat.
Melawan Defisit dan Ketergantungan
NTB selama ini paradoks; sebagai daerah agraris, kebutuhan telur dan daging ayamnya masih sering mengalami defisit. Dengan lonjakan permintaan dari program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah mendekati seribu satuan layanan di NTB, ketahanan pasokan menjadi urgensi keamanan nasional tingkat daerah.
Gubernur Iqbal menegaskan bahwa kerja sama ini bertujuan untuk mengubah nasib peternak rakyat yang selama ini “terjebak” dalam pola kemitraan yang pasif. Melalui skema contract farming dan kepastian pembeli (offtake), peternak lokal akan diposisikan sebagai aktor utama dalam rantai pasok industri modern, bukan sekadar penonton di lahan sendiri.
Strategi Hulu ke Hilir ID FOOD
ID FOOD akan mengerahkan infrastruktur logistiknya—mencakup 74 cabang distribusi dan 24 cold storage nasional—untuk memastikan produk dari Sumbawa dapat menembus pasar yang lebih luas. Secara teknis, ekosistem ini akan mencakup:
- Hulu: Penyediaan bibit unggul, pakan berkualitas, dan vaksin.
- Produksi: Pendampingan teknis dan akses pembiayaan KUR bagi peternak lokal.
- Hilir: Rumah Potong Unggas (RPU) modern, fasilitas pengolahan karkas, dan pengemasan standar ekspor.
Catatan Akhir: Taruhan Kedaulatan di Sumbawa
Penetapan NTB sebagai salah satu klaster utama pengembangan proyek ayam terintegrasi nasional adalah kemenangan diplomasi ekonomi daerah. Keberhasilan proyek ini tidak hanya akan diukur dari berdirinya pabrik pakan di Moyo Hilir, tetapi dari sejauh mana ketergantungan NTB terhadap telur dan daging ayam dari luar daerah bisa ditekan hingga nol. Jika hilirisasi ini sukses, Sumbawa akan bertransformasi dari sekadar lumbung jagung menjadi pusat protein nasional.
BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:
The Meritocratic Shuffle: Menakar Logika Perampingan Birokrasi di NTB



