BAYAN — Di tepi pantai Labuan Carik, sebuah benturan peradaban sedang berlangsung secara sunyi. Kawasan yang secara historis dan spiritual merupakan ruang sakral masyarakat adat Bayan, kini perlahan bertransformasi menjadi titik nadi ekonomi dan logistik. Dalam Forum Group Discussion (FGD) di Indragiri Camp, Ahad (5/4/2026), Juru Bicara Pemprov NTB Ahsanul Khalik (Aka) melontarkan peringatan keras: jika batas-batas ruang tidak ditetapkan berdasarkan nilai adat hari ini, maka pasarlah yang akan menetapkannya di masa depan. Pendekatan Nyangkar Carik hadir sebagai instrumen navigasi untuk menata ulang ruang yang kian terjepit oleh kepentingan ekonomi murni.
Aka menyoroti “Tiga Krisis” yang sedang mengepung Bayan: krisis ruang, nilai, dan kelembagaan. Melemahnya peran Amaq Lokak Syahbandar dan terputusnya ritual Selamat Labuan adalah alarm bahwa identitas budaya sedang berada di titik nadir. Nyangkar Carik bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan strategi zonasi yang membagi kawasan menjadi Zona Sakral, Sosial-Budaya, dan Ekonomi. Ini adalah upaya untuk memastikan bahwa pelabuhan dan aktivitas logistik tetap berjalan, namun tidak dengan cara menginjak-injak memori kolektif dan kedaulatan adat yang telah berusia berabad-abad.
Ekonomi Berakar: Budaya Sebagai Nilai Tambah
Pandangan bahwa adat menghambat kemajuan ditepis secara elegan dalam forum ini. Sebaliknya, pendekatan berbasis budaya dinilai memiliki nilai ekonomi tinggi jika dikelola secara tepat. Tanpa identitas Bayan, Carik hanya akan menjadi pelabuhan biasa; dengan adat, ia menjadi destinasi yang memiliki jiwa. Integrasi fungsi kawasan yang diusulkan oleh Dinas Perhubungan dan Dinas Kebudayaan NTB menunjukkan adanya upaya sinkronisasi birokrasi untuk mengharmonisasikan deru mesin transportasi dengan rapalan doa para tokoh adat.
Secara strategis, inisiatif yang didukung oleh Dana Indonesia ini menempatkan pemerintah bukan sebagai penguasa ruang, melainkan sebagai fasilitator. Penegasan bahwa pemerintah tidak boleh mengambil alih peran adat adalah kunci untuk menghindari konflik horizontal. Dengan menghidupkan kembali awik-awik dan pendidikan adat, Bayan sedang melakukan konsolidasi internal untuk menghadapi gelombang modernisasi. Targetnya jelas: memastikan pembangunan tetap memiliki “akar” agar tidak tercerabut saat badai perubahan global menghantam.
GetNews Strategic Audit: Nyangkar Carik Framework 2026
Analisis terhadap efektivitas dan risiko penataan kawasan berbasis adat di Bayan:
Vonis Redaksi: Menentukan Arah Sebelum Terlambat
Nyangkar Carik adalah keberanian politik untuk berkata “tidak” pada ekspansi pasar yang liar. GetNews memandang bahwa forum ini merupakan titik krusial: memulai penataan sekarang berarti menentukan arah masa depan, menunda berarti menyerahkan kendali pada kapitalisme yang buta nilai. Keberhasilan pembangunan di Bayan tidak boleh hanya diukur dari berapa banyak tonase logistik yang lewat di Labuan Carik, melainkan dari seberapa teguh masyarakatnya menjaga jati diri di tengah arus modernitas. Pembangunan harus punya akar, dan Nyangkar Carik adalah jalan pulangnya.
BACA JUGA Artikel lainnya:
Lombok Utara dan Diplomasi Kurma: Langkah Berani atau Sekadar Mimpi?



