AMBARA

Pak RT Joni dan Misi “Operasi Darurat Sampah”

Tong Sampah (istimewa)

Bab I: Aroma Surga yang Terabaikan

Ana (bahasa Arab Ampenan-untuk Saya, Gue, Aku) udah biasa sama aroma-aroma aneh di dunia. Aroma kaos kaki yang belum dicuci sejak Lebaran tahun lalu, atau parfum Nyokap yang baunya kayak warung jamu. Tapi, ada satu aroma yang belakangan ini sukses bikin Ana bete total, bahkan ngalahin bau pete di mobil umum: aroma tumpukan sampah di pertigaan kompleks.

​Masalahnya, kompleks Ana ini punya hero kebersihan yang super idealis, namanya Pak RT Joni. Orangnya sih oke, fashion Baju Kodok-nya selalu on point, tapi belakangan ini dia lagi was-was parah. Bukan was-was karena harga pulsa naik, keles, tapi karena image kampung kami—Kampung Makmur Jaya, yang tadinya mau rebranding jadi “The Cleanest Village on Earth”—anjlok gara-gara gunung sampah dadakan.

​Pak RT Joni itu, tiap kali lihat sampah nongkrong di luar jadwal, jidatnya langsung kayak peta. Kerutan di sana-sini menandakan level stresnya udah di atas ambang batas normal.

​“Dooolee! Tolong gue!” serunya suatu sore, padahal dia lagi duduk manis di teras sambil nyeruput kopi. “Lihat tumpukan itu! Baru gue bersihin tadi pagi, sore udah kayak habis diserbu pasukan zombie pembawa kulit duren! Harga diri kita, Doel!”

​Ana cuma nyengir sambil pura-pura mikir. “Santai, Pak RT. Itu namanya Art Installation. Tema: ‘Urban Decay’. Mahal lho di luar negeri.”

​Pak RT Joni mendelik. “Instalasi pala lo! Itu namanya aib! Aroma aib! Ini semua gara-gara mental semau-gue warga sini, Doel. Nggak ada data, nggak ada sistem!”

Baca juga alibi sampah menumpiuk: Ritase Sampah Dipotong 50%: Kebon Kongok Overload, Warga Kota Mataram Jadi Korban Baru Tumpukan Sampah

Bab II: Sidang Paripurna Sampah

​Keresahan Pak RT Joni akhirnya memuncak. Malam Minggu, bukannya pada ngapel atau nonton bioskop, kami semua dipaksa kumpul di pos ronda buat Rapat Darurat Sanitasi Total.

​Di depan, Pak RT Joni berdiri diapit tumpukan brosur daur ulang yang nggak ada yang baca. Wajahnya tegang, kayak lagi nunggu hasil tes DNA.

​“Warga sekalian!” suara Pak RT bergetar. “Saya sudah bete! Status kampung kita, dari ‘Makmur Jaya’ bisa turun jadi ‘Mampus Jaya’ kalau kita dibanjiri lalat dan tikus!”

​Seisi pos ronda, kecuali Ana yang sibuk ngeliatin Bu RT yang muter-muter mirip Gansing nyari sinyal untuk LIVE TikTok.

​“Masalahnya bukan soal bete, Pak RT!” teriak Bang Jojon, yang terkenal paling suka buang sampah kapan aja dia mau. “Masalahnya, mobil sampah itu datangnya random! Kadang subuh, kadang maghrib. Kami kan sibuk, Pak!”

​“Ya ampun, Bang Jojon. Sibuk buang kulit kacang di selokan?” sindir Ana pelan, tapi keras.

​“Diam, ABDOELLAH!” hardik Pak RT Joni. “Bang Jojon benar. Kalian semua alasannya sama: sibuk. Padahal, kalau kalian buang sampah di malam hari, lantas mobil sampah datangnya pagi, siapa yang nongkrong di sana semalaman? Ya TIKUS, keles!”

​Mbak Rita, yang fashionable tapi suka buang bungkus skincare di depan rumahnya sendiri, ikut bicara. “Gini, Pak RT. Kami mau buang sampah pilah. Tapi kan ribet. Mana tempatnya? Kami butuh kepastian!”

Ribet. Kata favorit warga sini saat disuruh mikir dua detik. Pak RT Joni menghela napas, jidatnya makin kusut. Ini adalah puncak konflik: niat baik vs. komedi kompleks dan ketiadaan sistem yang jelas.

Bab III: Solusi Anti-Bete: Data dan Warna

​Saatnya Ana intervensi. Kalau cuma ngandelin emosi Pak RT Joni, besok pagi tumpukan sampah itu pasti udah jadi tumpeng lagi. Ini butuh analisis—analisis Abdoellah Bin Haji Kareem A.K.A DOEL, tentunya.

​Ana maju, nyengir, terus pura-pura berpikir keras-keras.

​“Oke, guys. Lupain soal bete dan ribet. Pak RT Joni benar. Masalah kita adalah SISTEM dan DATA yang nggak jelas,” kata Ana, serius. Semua mata tertuju ke Ana, termasuk mata Pak RT yang berbinar penuh harap.

​Ana mengeluarkan smartphone dan menunjukkan sebuah draft sederhana.

​“Data menunjukkan, 80% sampah rumah tangga kita adalah sampah organik dan plastik. Sisanya, sampah B3 atau residu. Jadi, nih, kita nggak butuh 10 jenis tong sampah. Cukup TIGA warna,” jelas Ana.

​Ana tunjukkan data sederhana yang mudah dicerna:

Warna TongJenis SampahSolusi AkhirManfaat
HijauSampah Organik (sisa makanan, daun)Dibuat Kompos/MagotMengurangi volume sampah 60%, jadi pupuk gratis.
KuningSampah Anorganik (Plastik, Kertas, Kaleng)Dijual ke Bank SampahMenghasilkan CASH (uang tunai) untuk kas RT.
MerahResidu (Pembalut, Pampers, Styrofoam)Diangkut Dinas KebersihanMinimalisasi kontaminasi dan bau.

“Ini lho, Pak RT. Sistem 3R (Reduce, Reuse, Recycle) yang simpel dan nggak ribet. Bang Jojon, lo mau buang kulit kacang? Masukin Hijau. Mbak Rita, bungkus skincare lo? Masukin Kuning, bisa jadi cash!”

​Pak RT Joni melongo. Kerutan di jidatnya perlahan mengendur.

​“Data ini valid, Doel?” tanyanya, suaranya kembali tegar.

​“Valid, Pak. Ini namanya Circular Economy versi mini Kampung Makmur Jaya. Besok, Pak RT tinggal bikin jadwal: Hari Senin dan Kamis, fokus angkut Kuning (dijual). Hari Rabu dan Sabtu, fokus angkut Hijau (buat kompos),” kata Ana ber-khotbah.

Bab IV: Finalisasi dan Aroma Harapan

​Malam itu, Rapat Darurat Sanitasi Total berakhir dengan tepuk tangan meriah. Para warga nggak bisa ngeles lagi karena solusinya logic dan menghasilkan uang.

​Pak RT Joni menjabat tangan Ana, matanya berkaca-kaca. Biasanya jabat tangan dan mata berkaca-kacanya pas lebaran aja, tapi kali ini beda. Pak RT merasa terselamatkan.

​“Terima kasih, Doel. Lo menyelamatkan image gue dan kampung kita. Gue janji, besok gue akan cetak data lo ini besar-besar, terus gue tempel di setiap perempatan!”

​“Siap, Pak RT. Besok jangan lupa cat tong sampahnya ya. Hijau, Kuning, Merah. Biar estetik,” canda Ana.

​“Joni! Kamu sudah buatkan tong sampah tiga warna?” teriak Bu RT dari rumah.

​“Sudah, Bu! Besok launching!” balas Pak RT dengan semangat.

​Ana pun meninggalkan pos ronda. Aroma di pertigaan masih sedikit menyengat, sih. Tapi, di baliknya, Ana bisa mencium aroma yang lebih enak: aroma harapan, aroma sistem, dan aroma parfum Abah Ana yang Ana pakai, Aroma Kasturi.

Kadang, yang namanya solusi itu nggak butuh otot, tapi butuh otak. Dan yang pasti, butuh data yang diolah dengan gaya jenaka, biar nggak ada yang bete. Gitu lho, keles.

Emha Firmansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *