AMBARA – Hari itu, tumben langit cerah, mungkin OMC (Operasi Modifikasi Cuaca) dari BMKG yang dilepas di Sumatra untuk ‘mengusir’ hujan agar bencana tidak bertambah parah tertiup juga sampai ke Lombok Barat. Di sela-sela peluncuran Gerakan Desa Berdaya di Taman Ayu, Abdullah Bin H Kareem atau biasa dipanggil DOEL yang rambutnya ngak bisa rapi tetap awut-awutan meski di depan pejabat—asyik mendengar kemeriahan itu sembari duduk di pinggir pematang sawah. Di sebelah saya, ada Pak Udin, Kepala Desa yang ikut diundang tapi lebih nyaman duduk diluar arena karena kebiasaan merokoknya yang sudah akut tidak bisa beradaptasi dalam barisan undangan para pejabat. Wajahnya lebih penuh kerutan daripada laporan SPJ akhir tahun.
”Doel, kamu dengar tadi Pak Gubernur bilang provinsi cuma ‘orkestrator’?” tanya Pak Udin sambil menyulut rokok klobotnya.
Doel mengangguk sambil mengunyah sisa melon yang dibawa Pak Udin. “Iya, Pak. Keren ya bahasanya? Kayak konduktor musik klasik yang mau main di gedung megah.”
Pak Udin tertawa masam. “Masalahnya Doel, kalau Gubernur jadi konduktornya, bupati jadi pemain biolanya, lha saya ini apa? Saya ini penonton yang disuruh bayar tiket tapi juga disuruh nyapu panggung kalau konsernya selesai.”.
Baca ini juga biar tidak suudzon : Bangun dari Desa: Gubernur NTB Luncurkan “Gerakan Desa Berdaya” untuk Hapus Kemiskinan Ekstrem pada 2029
Data vs Dapur yang Ngebul
Gubernur Lalu Muhamad Iqbal memang bawa kabar gembira: kemiskinan desa di NTB turun jadi 11,78 persen. Sebuah rekor yang bikin orang kota iri setengah mati. Tapi Pak Udin punya perspektif beda.
”Doel, angka BPS itu kayak bedak di wajah pengantin. Kelihatannya mulus, tapi aslinya kita di desa yang tahu mana pori-pori yang masih bolong,” ujar Pak Udin serius. Beliau senang dengan janji verifikasi data faktual. Baginya, data itu “pintu masuk”, tapi kalau pintunya macet gara-gara birokrasi, ya rakyat tetap nggak bisa masuk.
”Tapi kan Pak Bupati janji kasih Rp1 miliar per desa di Lombok Barat, Pak?” pancing Si Doel.
Pak Udin mengembuskan asap rokoknya ke langit. “Uang Rp1 miliar itu besar, Doel. Bisa buat bangun irigasi, perbaiki jalan, sampai bantu modal petani, buruh atau nelayan. Tapi kalau aturannya masih berbelit-belit kayak benang kusut, itu uang cuma jadi pajangan di rekening desa. Kami mau ‘Berdaya’, bukan cuma ‘Berjaya’ di atas kertas laporan.”.
Pak Udin bener, tentu saja, uang segitu harus jadi modal usaha, bukan jadi modal buat ganti mobil pejabat.
Baca ini juga agar mawas diri: Desa Berdaya atau Desa ‘Diperdaya’? Menakar Nyali Orkestrasi Data di Tengah Kontras Kota-Desa
Antara Pupuk dan Panggung Global
Kita sempat diam sebentar, sayup-sayup terdengar saat Pak Gubernur bicara soal NTB Makmur Mendunia. Nilai Tukar Petani (NTP) kita naik jadi 128 karena harga gabah bagus dan pupuk bersubsidi mulai lancar.
”Nah, itu yang bener, Doel,” bisik Pak Udin. “Petani itu nggak butuh pidato bahasa yang mewah, hebat. Mereka cuma butuh pupuk datang pas musim tanam, bukan pas musim kampanye. Kalau biaya produksi turun, ya otomatis kami berdaya sendiri.”
Penutup: Simfoni yang Jangan Sampai Fals
Saat acara selesai dan para pejabat mulai naik ke mobil mewah mereka, Pak Udin menepuk bahu Si Doel. “Doel, bilangin di GETNEWS ya. Gerakan Desa Berdaya ini bagus, asal jangan sampai kami di desa cuma jadi latar foto buat media sosial. Kami mau simfoni ini beneran sampai ke telinga warga saya yang masih makan nasi aking.”
Doel cuma bisa mengangguk. Pak Udin benar. Kedaulatan fiskal dan orkestrasi data itu memang penting. Tapi tanpa nyali untuk memangkas aturan yang kaku, “Desa Berdaya” hanya akan jadi judul lagu yang enak didengar tapi nggak pernah masuk chart di hati rakyat.
Sambil berjalan pulang, Doel teringat skor SEO GETNEWS yang nangkring di angka 100. Semoga saja, kecepatan muat situs GETNEWS secepat kecepatan realisasi dana desa untuk warga Pak Udin.
Aamiiin
(Keterangan Foto: Hasil jepretan Pak Udin menggunakan HP Merk APPE dari angle pinggir arena acara, berdesakan dengan wartawan, tukang parkir yang ingin eksis, petani yang ingin tahu wajah gubernurnya, jadi, terima saja apa adanya)




