AMBARA – Indonesia sepertinya sedang jatuh cinta pada angka satu. Setelah kita bicara soal “Satu Data” yang sampai sekarang masih sering bikin bingung petugas kelurahan, kini Menteri Imipas Agus Andrianto membawa kabar gembira: tahun 2027 nanti, kita cuma punya satu jenis paspor. Tidak ada lagi kasta antara paspor biasa yang lecek, paspor laminasi yang standar, atau paspor polikarbonat yang mewahnya kayak kartu akses hotel bintang lima.
Semuanya mau disamakan. Satu paspor untuk satu bangsa. Terdengar puitis, bukan? Mirip sumpah pemuda, tapi versinya Ditjen Imigrasi.
Nomor Paspor: Komitmen yang Lebih Setia dari Mantan
Yang paling menarik adalah rencana nomor paspor seumur hidup. Bayangkan, selama ini setiap kita perpanjang paspor, nomornya ganti. Kita dipaksa menghapus memori nomor lama dan menghafal nomor baru. Ribetnya minta ampun kalau mau pesan tiket pesawat atau urus visa.
Dengan nomor seumur hidup, negara seolah-olah ingin bilang: “Cukup nomor HP dan alamat rumahmu saja yang ganti karena ditagih pinjol, nomor paspormu jangan.” Ini adalah komitmen kesetiaan dari birokrasi yang patut kita apresiasi. Setidaknya, ada satu hal dalam hidup ini yang bersifat permanen selain cicilan KPR.
Menghabiskan Stok Masa Lalu
Tapi ada satir yang lucu di sini. Pak Menteri minta semua sisa stok paspor lama “dihabiskan” dulu di tahun 2026. Saya jadi membayangkan para petugas Imigrasi tahun depan bakal kayak pedagang cuci gudang di mall: “Ayo Kak, paspor laminasinya sisa dikit lagi, bikin sekarang sebelum jadi barang antik di 2027!”
Strategi menghabiskan stok ini penting, biar nggak mubazir. Tapi ya itu, kedaulatan digital dan efisiensi layanan ini tetap saja berhadapan dengan realita di lapangan. Kita bicara paspor canggih polikarbonat untuk 2027, sementara di saat yang sama, kita masih punya ratusan honorer di NTB yang nasibnya “diputus” kontraknya 31 Desember ini karena alasan database.
Asal usulnya disini: Transformasi Dokumen Perjalanan: Indonesia Terapkan Satu Jenis Paspor Nasional dan Nomor Seumur Hidup di 2027
Rasanya agak kontras ya? Urusan nomor paspor dibikin seumur hidup, tapi urusan kontrak kerja orang yang sudah mengabdi belasan tahun malah nggak bisa dibikin “seumur hidup” alias permanen.
Penutup: Satu Paspor, Banyak Harapan
Kita mendukung penuh transformasi layanan publik ini. Siapa sih yang nggak mau urusan birokrasi jadi simpel? Apalagi Menkeu Purbaya lagi ngejar pertumbuhan 8%. Paspor yang simpel artinya mobilitas orang makin tinggi, dan mobilitas artinya peluang ekonomi makin terbuka.
Namun, di bawah langit AMBARA, kita diingatkan bahwa kemajuan itu bukan cuma soal mengganti bahan kertas jadi polikarbonat atau menyatukan jenis dokumen. Kemajuan sejati adalah saat negara hadir memberikan kepastian—baik itu kepastian nomor paspor bagi pengembara, maupun kepastian kontrak kerja bagi honorer di daerah.
Selamat bersiap menuju 2027, tahun di mana kita semua akan punya “satu identitas” di mata dunia. Semoga saja, saat paspor kita sudah makin keren dan nomornya seumur hidup, martabat kita sebagai bangsa juga ikut naik kelas, bukan cuma fisiknya saja yang diperbarui.
Mari kita nikmati sisa-sisa paspor lama kita, sambil berharap birokrasi kita benar-benar bisa jadi satu: satu kata dalam janji, satu perbuatan dalam bukti.
Baca juga artikel AMBARA lainnya: Menunggu Purbaya di Kebon Ayu: Sebuah Komedi Tentang Angka 8 dan Piring yang Belum Tentu Berisi




