JAKARTA, GETNEWS. – Presiden Prabowo Subianto menegaskan optimisme pemerintah bahwa Tanah Papua akan memainkan peran strategis dalam mewujudkan swasembada energi nasional. Melalui pengembangan bioenergi berbasis kelapa sawit, singkong, dan tebu, Papua diproyeksikan menjadi pilar utama untuk menekan ketergantungan impor Bahan Bakar Minyak (BBM) yang kini membebani anggaran negara hingga Rp520 triliun per tahun.
Langkah ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah untuk memperkuat kedaulatan energi melalui pemanfaatan sumber daya alam domestik secara mandiri.
Peta Jalan Kemandirian Energi Berbasis Papua
Pengembangan energi di Papua akan difokuskan pada tiga sektor utama yang memanfaatkan potensi bentang alam lokal yang luas:
| Sektor Energi | Komoditas & Teknologi | Target Kebijakan |
|---|---|---|
| Biofuel (Nabati) | Kelapa Sawit (Biodiesel). | Mandatory B40 menuju B50. |
| Bioetanol | Singkong, Jagung, dan Tebu. | Program Mandatory E10, E20, hingga E30. |
| Energi Terbarukan (EBT) | Tenaga Surya (Solar) & Tenaga Air (Hidro). | Elektrifikasi wilayah terpencil di Papua. |
Solusi Impor dan Keadilan Ekonomi
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menambahkan bahwa Papua sedang dipetakan sebagai wilayah strategis penyedia bahan baku bioetanol guna menekan impor bensin yang masih tinggi. Di sisi lain, Presiden Prabowo menekankan bahwa proyek energi ini tidak hanya untuk kebutuhan nasional, tetapi juga untuk memastikan daerah penghasil mendapatkan manfaat ekonomi langsung.
”Bayangkan berapa ratus triliun kita bisa hemat tiap tahun kalau kita bisa produksi energi sendiri dari sawit, singkong, hingga tenaga air,” ujar Presiden Prabowo.




