WASHINGTON — Sejumlah pejabat Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) dilaporkan mengakui kepada Kongres bahwa tidak ada bukti intelijen yang menunjukkan Iran berencana menyerang pasukan AS lebih dulu sebelum “Operation Epic Fury” diluncurkan. Pengakuan ini muncul dalam pengarahan tertutup selama 90 menit di hadapan staf komite keamanan nasional Senate dan House of Representatives pada Minggu, 1 Maret 2026.
Pernyataan ini kontras dengan narasi publik yang dibangun pemerintahan Presiden Donald Trump sebelumnya. Sehari sebelum serangan dimulai, pejabat senior menyebut indikator serangan “preemtif” dari Iran sebagai salah satu alasan utama aksi militer. Meski demikian, pejabat Pentagon tetap menekankan bahwa program rudal balistik dan pasukan proksi Tehran merupakan “ancaman nyata” yang harus segera dilumpuhkan demi kepentingan keamanan nasional AS.
Operasi militer yang melibatkan serangan udara masif ke lebih dari 1.000 target ini telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Di sisi lain, militer AS juga mengonfirmasi jatuhnya korban jiwa pertama dari pihak Amerika, dengan laporan tiga tentara tewas dan lima lainnya luka-luka akibat serangan balasan Iran.
“Perang sering kali dimulai dengan narasi ‘membela diri’, namun sejarah akan selalu bertanya apakah peluru pertama ditembakkan karena ancaman nyata atau sekadar ambisi politik yang terbungkus rapi.”
Audit Strategis: Justifikasi Operasi ‘Epic Fury’ 2026
Analisis ini membedah perbedaan antara narasi politik luar negeri dengan realitas data intelijen militer terkait serangan ke Iran.
INDONESIA INSIGHTS: Dampak bagi Kawasan
Langkah Amerika Serikat ini memicu kekhawatiran akan terjadinya “perang pilihan” (war of choice) yang berisiko menarik stabilitas global ke titik nadir. Bagi Indonesia, eskalasi ini bukan sekadar berita luar negeri; dampak pada harga energi dan peta diplomasi di Timur Tengah akan menjadi tantangan berat bagi kedaulatan ekonomi nasional di tahun 2026. Kritik dari kubu Demokrat di Kongres AS menunjukkan bahwa legitimasi perang ini akan terus diuji, terutama saat bukti intelijen di lapangan tidak sejalan dengan retorika di podium.
Photo: Pentagon (Wikipedia)
Verified Source: TRT World: Pentagon Intelligence Report on Iran Strikes (2026)
BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:
Dilema Sang Juru Damai di Bawah Bayang-bayang Paman Sam



