GET CORNER

Penulis Palestina Adania Shibli Dicoret dari Adelaide Writers’ Week, Sastrawan Dunia Bereaksi

Adania Shibli (istimewa)

ADELAIDE, getnews.co.id — Dunia sastra internasional kembali diguncang isu pembungkaman suara Palestina. Penulis ternama Adania Shibli, yang dikenal lewat karyanya Minor Detail, dilaporkan dicoret dari daftar pembicara utama di Adelaide Writers’ Week (atau festival sastra serupa di Australia). Penyelenggara festival dituding tunduk pada tekanan politik pihak ketiga yang keberatan dengan kehadiran suara-suara kritis dari Palestina di tengah memanasnya eskalasi global.

​Pencoretan Shibli memicu gelombang solidaritas dari penulis-penulis besar dunia yang menilai tindakan penyelenggara sebagai bentuk nyata dari sensor budaya yang mencederai nilai demokrasi Australia.

“Tugas sebuah festival sastra bukanlah untuk menciptakan kenyamanan atau konsensus, melainkan menyediakan ruang bagi gagasan yang paling menantang sekalipun. Jika kita mulai membungkam suara karena takut pada tekanan politik, maka kita telah gagal menjalankan mandat kebudayaan kita.

LA

Louise Adler

Director, Adelaide Writers’ Week

Dashboard Validitas: Krisis Sastra Adania Shibli

​Pencoretan ini bukan kejadian pertama, namun di awal 2026 ini, dampaknya secara sistemik mengancam integritas festival-festival seni di Australia.

Censorship Fact-Check: Adelaide Literary Event
Parameter ValidasiDetail Informasi
Nama PenulisAdania Shibli (Palestina).
Nama PenyelenggaraAdelaide Writers’ Week / Arts South Australia.
Karya yang Dipersoalkan“Minor Detail” (Novel nominasi International Booker Prize).
Tuntutan KomunitasPengembalian Hak Bicara & Permohonan Maaf Terbuka.
Sumber Terverifikasi: The Guardian / PEN International | Update: 12 Jan 2026

Melawan Arus Pembatalan

Louise Adler, Direktur Adelaide Writers’ Week, bersikeras mempertahankan kehadiran Adania Shibli meskipun menghadapi tekanan besar dari beberapa sponsor utama dan kelompok pro-Israel di Australia. Adler berpendapat bahwa festival sastra harus tetap menjadi “benteng terakhir” bagi kebebasan berekspresi.

​Namun, eskalasi di lapangan seringkali memaksa dewan direksi untuk mengambil keputusan pragmatis yang pahit. Isu Shibli ini menjadi ujian berat bagi institusi seni di seluruh benua Australia: apakah mereka akan berdiri di sisi penulis atau menyerah pada pragmatisme politik dan finansial?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *