AMBARA – Panggung birokrasi NTB sedang seru-serunya. Pak Gubernur sudah melempar tantangan terbuka untuk posisi Sekretaris Daerah (Sekda). Sementara itu, di kaki Gunung Rinjani, Lombok Utara baru saja resmi “punya nakhoda” baru dengan dilantiknya Sahabudin Daya sebagai Sekda KLU. Selamat untuk KLU, satu urusan selesai. Tapi untuk tingkat Provinsi? Pertunjukan baru saja dimulai.
Di bawah langit AMBARA, kita melihat jabatan Sekda bukan cuma soal tanda tangan berkas, tapi soal jadi “benteng” dan “motor” di tengah pusaran angka triliunan. Bayangkan, pusat sedang pamer penyerapan anggaran Makan Bergizi Gratis sebesar Rp 52,9 Triliun. Kalau Sekdanya nggak punya “nyali” dan strategi, uang sebanyak itu cuma bakal lewat seperti angin di atas Selat Lombok, tanpa mampir secara signifikan ke piring nasi rakyat kita.
Menjaga asa NTB MAKMUR MENDUNIA di tengah pusaran ekonomi global butuh lebih dari sekadar keberanian; butuh ketukan dirigen yang presisi. Sang Sekda harus mampu memastikan bahwa setiap rupiah dari triliunan anggaran pusat itu benar-benar terdistribusi ke sektor produktif di NTB, bukan habis tertahan di birokrasi yang lamban. Ia harus menjadi ‘penyambung lidah’ yang galak kepada vendor agar melibatkan petani lokal, sehingga piring makan bergizi rakyat NTB berisi hasil bumi tanah sendiri, sesuai doktrin swasembada yang digaungkan Presiden Prabowo.
Lebih jauh lagi, Sang Dirigen ini wajib ‘membersihkan’ jalur investasi dari sumbatan peraturan yang tumpang tindih. Visi Mendunia hanya bisa direalisasikan jika sistem birokrasi kita sudah selevel dengan standar OECD yang sedang dikejar Indonesia. Ia harus memastikan transisi koridor digital berjalan mulus tanpa celah, agar investor global merasa aman menanamkan modalnya di sini. Jika Sang Sekda gagal menjaga tempo antara tuntutan kesejahteraan buruh yang menolak UMP rendah dengan kebutuhan stabilitas dunia usaha, maka simfoni kemakmuran itu akan berubah menjadi suara sumbang yang menjauhkan NTB dari panggung dunia.
Pada akhirnya, menjadi Sekda bukanlah tentang seberapa lama Anda duduk di kursi empuk, melainkan seberapa cakap Anda meracik harmoni di tengah kegaduhan kepentingan. Kita tidak butuh sekadar administrator yang jago mengangguk, kita butuh dirigen yang tahu kapan harus memberikan tempo crescendo pada inovasi dan kapan harus memberikan diminuendo pada ego sektoral. Karena NTB yang “Makmur Mendunia” tidak akan lahir dari sekadar rilis pers yang rapi, melainkan dari piring-piring rakyat yang terisi dan investasi yang tak lagi terganjal birokrasi.
Selamat berburu nakhoda baru, Pak Gubernur. Semoga yang terpilih nanti adalah sosok yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, agar ia bisa fokus membereskan urusan orang banyak.




