Sepertinya Teheran sedang gemas melihat Jakarta yang belakangan sering tampak grogi setiap kali Amerika Serikat menyebut kata “tarif.” Lewat pesan terbarunya, Iran mencoba berlagak seperti kakak kelas yang sudah kenyang dihajar sanksi, mendesak Indonesia untuk santai saja dan mengabaikan ancaman tarif Washington. Intinya satu: jangan mau didikte oleh negara yang merasa punya hak paten atas kedaulatan orang lain.
Bagi Iran, gertakan tarif AS itu tak ubahnya teror dari debt collector gadungan—terdengar seram, tapi sebenarnya hanya trik lama untuk memastikan Indonesia tetap jadi “anak manis” di pasar global. Teheran mengingatkan bahwa status “Negara Merdeka” itu bukan sekadar hiasan di teks proklamasi, tapi harus diuji saat Washington mulai memainkan tombol pajak ekspor. Indonesia dianggap terlalu besar untuk sekadar gemetar melihat cuitan dari Gedung Putih.
Namun, mari jujur pada realitas yang agak pahit: Iran mengajak kita melawan karena mereka sudah tidak punya beban (dan memang sudah tidak bisa dagang dengan AS). Sementara bagi Jakarta, ini adalah dilema eksistensial. Memilih kedaulatan versi Teheran berarti siap-siap melihat komoditas kita kena “blokir” di pasar Amerika, sementara memilih penurut berarti siap-siap kehilangan taji di mata blok ekonomi baru. Indonesia kini sedang dipaksa memilih: mau jadi macan yang lapar karena berani melawan, atau jadi kucing rumahan yang kenyang tapi lehernya diikat rantai tarif?




