PRESIDEN PRABOWO Subianto sepertinya baru saja menemukan musuh baru yang lebih berbahaya daripada infiltrasi asing: yaitu pengadaan alat tulis kantor (ATK) yang nggak masuk akal. Dalam sesi tanya jawab “Presiden Prabowo Menjawab” (19/3), beliau pamer keberhasilan memangkas anggaran pusat sebesar Rp308 triliun. Angka yang kalau dibelikan cilok bisa bikin satu pulau Jawa kenyang tujuh turunan ini, menurut Prabowo, adalah hasil dari memotong pengeluaran “akal-akalan”. Beliau yakin, kalau duit Rp308 triliun itu nggak dipotong, ujung-ujungnya bakal “tersesat” ke kantong para koruptor.
Yang bikin ngeri-ngeri sedap adalah saat Prabowo mulai main angka ICOR (Incremental Capital Output Ratio). Indonesia ternyata punya skor 6,5. Kedengarannya keren? Kagak. Angka ini adalah skor “ketidakefisienan”. Bandingkan sama Thailand yang skornya 4, atau Vietnam yang cuma 3,6. Artinya, buat bikin ekonomi jalan, Indonesia itu 30 persen lebih boros dari tetangga. Prabowo menghitung, dari APBN kita yang Rp3.700 triliun, ada potensi “bocor halus” sekitar USD 75 miliar. Itu duit, Pak, bukan daun jati!
“Memotong anggaran Rp308 triliun itu gampang, yang susah adalah memastikan staf kementerian nggak mendadak kena penyakit ‘rindu rapat di hotel’. Di tangan Prabowo, APBN bukan lagi prasmanan gratis buat pejabat, tapi jatah makan yang harus dihitung sampai butir nasi terakhir.”— AMBARA SATIRE INDEX
Target diet ketat Prabowo kali ini sangat spesifik dan bikin para panitia seminar ketar-ketir: biaya seremonial, rapat di hotel, sampai pengadaan komputer yang tiap tahun ganti (padahal cuma buat main Solitaire). Beliau juga gemas sama kajian-kajian akademis yang tebalnya minta ampun tapi nggak nyentuh urusan kemiskinan sama sekali. Intinya, Prabowo mau bilang: “Stop foya-foya pakai duit rakyat buat hal-hal yang nggak penting!”
Jurus pamungkasnya? Prabowo melirik kebijakan WFH (Work From Home) permanen atau pemangkasan hari kerja jadi 4 hari saja, meniru Filipina dan Pakistan. Beliau mengusulkan 75 persen pegawai kerja dari rumah saja. Logikanya masuk akal: kalau kantor sepi, biaya listrik, AC, kopi, dan camilan rapat bisa dipangkas habis. Plus, nggak perlu ada anggaran “perjalanan dinas” yang cuma buat pindah tidur doang. Kita lihat saja, apakah birokrasi kita yang hobi “Asal Bapak Senang” ini siap hidup prihatin, atau malah bakal bikin gerakan “Work From Hotel” dengan anggaran tersembunyi.




