AMBARA

Prabowo vs ‘Deep State’ Lokal: Ketika Dirjen Merasa Lebih Kuat dari Menteri

​PRESIDEN PRABOWO Subianto baru saja menabuh genderang perang melawan musuh yang selama ini hanya jadi desas-desus di kantin departemen: Deep State. Bukan deep state ala Amerika yang penuh konspirasi alien, melainkan deep state versi kearifan lokal di mana para Direktur Jenderal (Dirjen) merasa punya “kerajaan” sendiri. Prabowo dengan nada bicara yang meledak-ledak mengungkap bahwa ada dirjen-dirjen “untouchable” alias tak tersentuh yang berani pasang badan melawan menterinya sendiri. Hasilnya? Prabowo langsung main “tebas” alias pecat massal. Sebuah pesan singkat, padat, dan sangat menyakitkan bagi para pembangkang birokrasi.

​Masalahnya ternyata bukan cuma soal pembangkangan, tapi soal “kebutaan” audit. Prabowo menemukan ada lembaga-lembaga negara yang selama ini nggak bisa diaudit sama sekali. Bayangkan, sebuah institusi yang memakai duit rakyat tapi auditnya lebih tertutup daripada rahasia resep bumbu gorengan. Di mata Prabowo, ini adalah anomali yang harus diselesaikan dengan cara ekstrem. Kalau dirjennya sudah merasa lebih berkuasa dari menteri dan lembaga nggak bisa diaudit, ya itu namanya bukan pemerintah, tapi “negara dalam negara” yang isinya cuma sekumpulan raja-raja kecil yang hobi koleksi stempel.

“Memecat dirjen yang membangkang itu gampang, yang susah adalah memastikan dirjen penggantinya nggak ketularan virus ‘merasa jadi raja’. Di negeri ini, jabatan seringkali bikin orang lupa kalau di atas langit masih ada presiden yang hobi audit.”— AMBARA SATIRE INDEX

​Fenomena “Dirjen Ngelawan Menteri” ini sebenarnya rahasia umum di Jakarta. Banyak dirjen yang merasa lebih senior dan punya jaringan lebih kuat daripada menteri yang baru menjabat. Mereka ini adalah “penghuni tetap” birokrasi yang merasa menteri itu cuma tamu lewat. Tapi mereka lupa, Prabowo bukan tipe tuan rumah yang suka kasih senyum basa-basi ke tamu tak diundang yang mau ngatur rumahnya. Dengan istilah “Deep State”, Prabowo sedang memberi label bahwa praktik ini adalah sabotase terhadap efisiensi negara—terutama saat beliau lagi gencar-gencarnya suruh menteri diet anggaran.

​Langkah pecat massal ini tentu bikin eselon atas di kementerian-kementerian mendadak rajin absen dan ramah sama menteri. Prabowo sedang mengirim sinyal: tidak ada yang tak tersentuh di bawah kepemimpinannya. Beliau ingin birokrasi yang tegak lurus, bukan yang hobi “belok kiri” demi kepentingan kelompok atau proyek sampingan. Kita lihat saja, apakah setelah para “Raja Kecil” ini dipangkas, mesin pemerintahan bakal lari lebih kencang, atau justru bakal ada “perlawanan bawah tanah” dari sisa-sisa deep state yang masih bersembunyi di balik tumpukan dokumen.

GETNEWS STRATEGIC AUDIT: Deep State Clean-Up 2026
Temuan UtamaAksi Presiden PrabowoLensa Strategis Ambara
Dirjen ‘Untouchable’Pemecatan massal dirjen yang berani melawan menteri.The Iron Sieve. Saringan besi Prabowo bekerja; yang nggak tegak lurus langsung disingkirkan.
Lembaga GelapIdentifikasi lembaga yang tidak bisa diaudit (auditable).The Black Box. Institusi rasa bunker; duit masuk lancar, tapi laporannya gaib.
Budaya ABSPemusnahan laporan palsu dan mentalitas penjilat.Reality Check. Prabowo nggak butuh laporan ‘indah’, beliau butuh laporan ‘jujur’ biar nggak salah langkah.
Analysis: GetNews Intelligence Unit | Source: BPMI Setpres [20 Mar 2026]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *