AMBARA

Proyek Kampung Haji Danantara: Investasi Akhirat atau Sekadar Blunder Properti di Tanah Suci?

MAKKAH (Danantara/istimewa/GETNEWS.)

JIKA ADA satu hal yang lebih panas dari terik matahari di padang Arafah, itu adalah kabar mengenai proyek “Kampung Haji” milik Danantara di Mekah. Niatnya mulia: memberikan hunian terpadu bagi jamaah Indonesia agar tidak tercecer di hotel-hotel pinggiran. Namun, realitanya? Bau-bau “simpang siur” mulai tercium lebih tajam daripada aroma kambing guling di pasar lokal.

​Bagi Danantara (BP Daya Anagata Nusantara), proyek ini adalah pertaruhan kredibilitas investasi perdana di luar negeri. Masalahnya, jika lokasi hunian ini ternyata berjarak “setengah perjalanan Isra Miraj” dari Ka’bah dan dikelola dengan manajemen yang semrawut, maka label “Kampung Haji” bisa berubah jadi “Kampung Derita” bagi para jamaah kita.

Komponen AuditAnalisis Investigatif (Mojok Style)Status Resiko
Lokasi StrategisIsu jarak jauh dari Masjidil Haram (Butuh tawaf sebelum tawaf).POTENTIAL BLUNDER
Tata KelolaOperasional masih simpang siur (Siapa yang pegang kunci?).MANAGEMENT MESS
Model InvestasiDana Jumbo Danantara (Pertaruhan marwah Super Holding).HIGH STAKES

Sumber Data: Laporan Tempo Plus & GetNews Strategic Unit 2026.

Ka’bah di Mana, Kampung Haji di Mana?

​Investasi properti itu hukumnya cuma satu: Lokasi, Lokasi, dan Sabar. Bagi jamaah haji, jarak hunian ke Masjidil Haram adalah koentji kebahagiaan duniawi sebelum ukhrawi. Jika Danantara membangun kompleks megah tapi letaknya membuat jamaah harus naik unta atau bus berjam-jam hanya untuk shalat subuh berjamaah, maka nilai investasinya otomatis jeblok di mata publik.

​Publik mulai bertanya-tanya: Apakah ini benar-benar untuk kemudahan jamaah, atau sekadar proyek properti yang penting “ada fisiknya” biar anggaran Danantara terlihat terserap? Jangan sampai Kampung Haji ini jadi monumen kesemrawutan di tanah suci yang bikin malu nama bangsa.

Manajemen yang ‘Masih Tawaf’

​Berita soal pengelolaan yang simpang siur mengindikasikan bahwa Danantara mungkin terlalu terburu-buru ingin “pamer” portofolio global. Mengelola ribuan jamaah di negara orang itu bukan seperti mengelola kos-kosan di Depok. Ada regulasi Arab Saudi yang ketat, ada persaingan vendor lokal, dan ada ekspektasi jamaah yang sangat tinggi.

​Kalau manajemennya saja masih simpang siur—alias belum jelas siapa yang bertanggung jawab atas apa—bisa-bisa pas musim haji tiba, yang ada bukan pelayanan prima, tapi antrean panjang komplain jamaah yang merasa kena prank investasi negara. Danantara harus ingat, mereka membawa nama “Anagata Nusantara” (Masa Depan Nusantara), jangan sampai yang dibawa malah “Masa Suram” jamaah haji kita.

Kesimpulan: Jangan Jualan Janji di Tanah Suci

​Danantara perlu segera melakukan audit transparan. Jelaskan ke publik seberapa dekat hunian itu ke Kakbah, dan siapa yang akan menjamin operasionalnya tidak “ambyar”. Rakyat Indonesia paling sensitif kalau urusan ibadah sudah dicampuradukkan dengan isu kegagalan investasi.

​Selamat bekerja, Danantara. Semoga Kampung Haji ini benar-benar jadi oase, bukan malah jadi alasan jamaah kita untuk istigfar lebih banyak gara-gara manajemen yang berantakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *