mantan Wamenlu Dino Patti Djalal, sebelum masuk Gerbang Istana, suasananya mungkin mendung pekat, tapi begitu keluar, ia langsung membawakan kabar gembira bahwa Board of Peace (BoP) adalah "satu-satunya jalan ninja" menuju perdamaian Gaza. (BPMI SETPRES)

​Dunia diplomasi kita itu memang mirip hubungan asmara yang toksik: berangkat dengan MARAH dan KECEWA, pulang-pulang malah jadi pembela nomor satu. Itulah yang terjadi pada mantan Wamenlu Dino Patti Djalal. Sebelum masuk Gerbang Istana, suasananya mungkin mendung pekat, tapi begitu keluar, ia langsung membawakan kabar gembira bahwa Board of Peace (BoP) adalah “satu-satunya jalan ninja” menuju perdamaian Gaza.

​Prabowo rupanya punya ramuan jagoan untuk menjinakkan skeptisisme para suhu luar negeri. Dino yang tadinya sangsi, kini malah memuji langkah “realistis” Presiden. Intinya: daripada cuma jadi penonton di pinggir lapangan sambil teriak-teriak boikot, lebih baik masuk ke dalam sistem, meskipun di dalamnya kita harus duduk satu meja dengan pengaruh Amerika yang (katanya) disetir Israel.

AUDIT STRATEGIS GETNEWS: Transformasi Sikap Pasca-Istana
Fase PertemuanMood & NarasiAnalisis AMBARA
Sebelum MasukMARAH & KECEWAEfek belum kena ‘teh hangat’ dan penjelasan personal Bapak Presiden.
Setelah Keluar“Satu-satunya opsi di atas meja.”Magic! Dari kritikus pedas jadi jubir kebijakan tak resmi.
Strategi IntiKompak bareng Arab Saudi, Turki, Mesir.Main keroyokan biar nggak gampang ‘dibully’ Amerika dan Israel.
Sumber: GetNews Intel Unit

Diplomasi ala Prabowo ini memang sangat pragmatis. Beliau seolah-olah memberikan “garansi” kepada Dino dan kawan-kawan: kalau di tengah jalan BoP ternyata cuma jadi alat politik yang merugikan Indonesia, kita tinggal tekan tombol Log Out. Sebuah janji yang manis didengar, meski kita semua tahu, keluar dari keanggotaan elit global itu tidak semudah keluar dari grup WhatsApp alumni sekolah.

​Dino Patti Djalal yang akhirnya luluh menjadi bukti bahwa komunikasi politik itu soal bagaimana cara membungkus “pil pahit” menjadi “permen karet”. Pil pahitnya: kita harus kompromi dengan skema AS. Permen karetnya: kita jadi pemain utama bareng negara-negara Islam besar lainnya.

​Kita lihat saja nanti, apakah BoP ini benar-benar akan membawa perdamaian, atau jangan-jangan cuma jadi ajang arisan triliunan yang bikin kita makin jauh dari urusan domestic—seperti gaji guru honorer yang tadi kita bahas. Sebab, mau sekeren apa pun kita di luar negeri, kalau guru di dalam negeri masih nyambi jadi kurir, tetap saja ada yang tidak beres dengan “kedamaian” versi kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *