Aziz itu guide turis di Lombok, tapi belakangan dia merasa pekerjaannya lebih mirip petugas parkir pesawat. Datang. Turun. Foto. Check-out. Pergi. Selesai.
”Gus, ini bukan pariwisata. Ini namanya numpang kencing lalu pergi,” keluh Aziz suatu sore di warung kopi dekat Senggigi. “Setiap kali saya antar bule, rasanya kayak lagi balapan speed-dating!”
(Suara Narator): Frustrasi Aziz beralasan. Data BPS yang nggak mau bohong menunjukkan betapa dinginnya sambutan turis kita. Rata-Rata Lama Menginap (RLM) tamu hotel berbintang di NTB hanya 1,87 hari. Bahkan, hotel non-bintang pun lebih parah, cuma mencatat RLM 1,66 hari. Kurang dari dua hari.
Asal usul RLM 1,87 : Mandalika Megah, Tapi Turis Tak Mau Menginap Lama. Ada Apa dengan Pariwisata NTB?
Aziz menyalakan rokoknya, matanya menyipit, dan dia menatap pantai dengan pandangan seorang filsuf yang baru mendapat pencerahan gila.
”Saya sudah punya solusinya, Bang. Solusi yang akan membuat RLM kita naik drastis,” kata Aziz serius. “Kita harus ubah hukum pariwisata menjadi hukum pernikahan.”
”Maksudmu?”
”Gini. Kalau turis cuma pacaran, ya jelas cuma nginap sebentar, 1,87 hari itu kan sama kayak janji-janji gombal. Tapi kalau kita ajak mereka menikah sekalian…”
Aziz meletakkan cangkir kopinya.
”Pernikahan itu kan komitmen seumur hidup! Turis itu nggak cuma nginap di hotel, mereka harus ngurus KTP, ngurus KK, ngurus surat numpang tinggal di Ampenan. Mereka harus bertemu keluarga! Turis yang sudah jadi menantu Lombok nggak mungkin nginap cuma dua hari, Bang! Minimal seminggu untuk acara adat!”
(Suara Narator): Ide Aziz itu adalah kritik paling satir terhadap kebijakan pariwisata yang terlalu fokus pada volume (Total tamu hotel berbintang mencapai 120.321 orang), tapi gagal menciptakan sense of belonging (rasa memiliki).
(Suara Narator): Tentu, ide Aziz tidak realistis—secara hukum pernikahan tidak bisa dijadikan program pariwisata. Tapi ide ini menyampaikan pesan bernas:
- Kebijakan pariwisata yang benar harus menciptakan produk yang membuat turis merasa terikat secara emosional dan kultural, bukan hanya produk takeaway (ambil-foto-pergi).
- Selama kita gagal menjual komitmen, selama itu pula RLM kita akan terus stagnan di angka 1 koma sekian hari. Kita tidak butuh speed dating pariwisata. Kita butuh komitmen sejati dari produk dan layanan kita.
Dan itu, kata Aziz, dimulai dari lamaran yang serius.
Tim Redaksi
BPS !NSIGHT: Edisi Januari 2026
"Sourced from BRS BPS NTB - Strategic Analysis by GET DATA !NSIGHT"




