JAKARTA — Nama Roehana Koeddoes mungkin sempat terkubur oleh zaman, namun semangatnya kini mencuat kembali sebagai kompas bagi insan pers dan konten kreator di era banjir informasi. Lahir di Koto Gadang, Sumatera Barat pada 1884, saudara tiri Sutan Sjahrir ini bukan sekadar sosok di masa lalu; ia adalah arsitek pertama jurnalisme perempuan di Indonesia.
Di tengah keterbatasan akses pendidikan bagi perempuan di awal abad ke-20, Roehana membuktikan bahwa pena jauh lebih tajam daripada prasangka. Puncaknya terjadi pada 10 Juli 1912, saat ia mendirikan Soenting Melajoe, surat kabar pertama di Hindia Belanda yang seluruh redaksinya—dari pemimpin redaksi hingga penulis—adalah perempuan.
Jurnalisme yang Memberdayakan
Bagi Roehana, menulis bukan sekadar merangkai kata atau mengejar kecepatan kabar. Ia menjadikan media sebagai alat pendidikan (empowerment). Melalui Soenting Melajoe, ia mengajak perempuan untuk belajar membaca, berorganisasi, dan memahami hak-hak mereka di bawah tekanan tradisi dan kolonialisme.
“Pena adalah alat pembebasan. Tanpa tulisan, suara perempuan akan terus terbenam dalam sunyi,” demikian sari pati semangat yang selalu ia embuskan.
Relevansi bagi Konten Kreator Masa Kini
Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menilai semangat Roehana tetap berdenyut kuat di tahun 2026. Di era di mana setiap orang memiliki media sendiri di genggaman tangannya, Roehana memberikan pelajaran berharga tentang etika dan tujuan.
Berikut adalah tiga pilar perjuangan Roehana yang menjadi “mantra” bagi konten kreator masa kini:
- Kualitas di Atas Viralitas: Roehana tidak menulis untuk sensasi, melainkan untuk edukasi. Kreator saat ini diajak untuk mengutamakan data dan manfaat bagi audiens daripada sekadar mengejar clickbait.
- Menulis dengan “Rasa”: Di tengah konten robotik hasil AI atau banjir emosi sesaat, Roehana mengingatkan pentingnya empati dan ketelitian dalam setiap narasi yang dipublikasikan.
- Kemandirian Media: Keberanian Roehana mendirikan media sendiri menunjukkan bahwa keterbatasan sarana bukan penghalang untuk menyuarakan kebenaran.
Audit Strategis: Warisan Roehana Koeddoes dalam Jurnalistik
Perjalanan Roehana adalah cermin bagi evolusi pers Indonesia yang kini tengah berjuang menjaga marwahnya di ruang digital.
Roehana Koeddoes mengajarkan bahwa menjadi “yang pertama” itu penting, tetapi menjadi “yang bermakna” adalah abadi. Bagi para konten kreator, ia adalah inspirasi bahwa di balik setiap konten yang diunggah, ada tanggung jawab sosial yang harus dijunjung. Kebebasan digital haruslah digunakan untuk mengangkat derajat sesama, persis seperti yang dilakukan Roehana seratus tahun yang lalu.




