OASE

Saat Alam Bicara: Meneladani Pesan Rasulullah S.A.W. dalam Menjaga Bumi

ILUSTRASI SEJUK - Perbukitan di Wilayah Sekotong Lombok Barat (istimewa)

OASE – Bencana yang melanda saudara-saudara kita di Sumatera baru-baru ini bukan sekadar berita duka di layar ponsel kita. Longsor dan banjir yang melumpuhkan infrastruktur adalah cara alam berbicara kepada kita bahwa ada keseimbangan yang sedang terganggu. Allah SWT telah mengingatkan hal ini dalam Al-Qur’an:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah hendak merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)

1. Alam sebagai Amanah yang Harus Dipertanggungjawabkan

Rasulullah S.A.W. mengajarkan bahwa manusia adalah pengelola bumi, bukan pemilik mutlak yang boleh bertindak semena-mena. Beliau bersabda:

“Dunia ini hijau dan indah, dan sesungguhnya Allah telah menjadikan kalian sebagai khalifah (pengelola) di atasnya, maka Allah akan melihat bagaimana kalian berbuat.” (HR. Muslim)

​Bencana di Sumatera mengingatkan kita bahwa ketika amanah mengelola alam diabaikan demi ego, maka “kerusakan” adalah konsekuensi yang nyata.

2. Larangan Merusak dan Berlebih-lebihan

Islam sangat melarang perilaku destruktif terhadap lingkungan, bahkan dalam penggunaan air untuk ibadah sekalipun. Suatu ketika Rasulullah S.A.W. melewati Sa’ad yang sedang berwudu, lalu beliau bersabda:

“Mengapa engkau berlebih-lebihan seperti ini?” Sa’ad bertanya: “Apakah dalam wudu ada pemborosan?” Nabi menjawab: “Ya, meskipun engkau berada di sungai yang mengalir deras.” (HR. Ahmad)

​Jika dalam berwudu saja kita dilarang boros air, apalagi dalam mengeksploitasi hutan dan alam yang berdampak pada keselamatan ribuan nyawa saudara kita.

3. Sedekah Jariyah Melalui Hijonisasi Bumi

Menanam pohon bukan sekadar hobi, melainkan investasi akhirat yang pahalanya terus mengalir. Rasulullah S.A.W. memberikan motivasi yang sangat kuat:

“Tidaklah seorang muslim menanam pohon atau menanam tanaman, lalu burung, manusia, atau hewan memakan darinya, kecuali hal itu menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhari)

​Bahkan, beliau memerintahkan kita untuk tetap menanam meski kiamat sudah di depan mata, menunjukkan betapa pentingnya menjaga kelestarian bumi hingga titik darah terakhir.

Menyambut Ramadan: Saatnya Tobat Ekologis

Ramadan yang akan segera tiba adalah momen terbaik untuk melakukan “detoksifikasi” jiwa. Jika Ramadan mengajarkan kita menahan lapar, ia juga harus mengajarkan kita menahan diri dari merusak alam. Marilah kita jadikan bulan suci nanti sebagai titik balik untuk mensyukuri setiap karunia Allah dengan menjaga kelestariannya.

​Semoga Allah melindungi saudara-saudara kita di Sumatera, menerima amal ibadah kita, dan menjadikan kita hamba yang pandai bersyukur melalui tindakan nyata menjaga bumi ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *