JAKARTA — Arteri energi Indonesia tengah tersumbat di titik paling krusial dunia. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI pada Jumat, 6 Maret 2026, mengonfirmasi bahwa Jakarta sedang berpacu dengan waktu dalam dialog intensif dengan Teheran. Fokusnya satu: membebaskan dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang terjepit di Selat Hormuz akibat eskalasi militer antara Iran melawan aliansi Amerika Serikat-Israel.
Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kemlu RI, Santo Darmosumarto, menyatakan bahwa situasi di kawasan Teluk belum kondusif pasca-dimulainya Operation Lion’s Roar oleh AS-Israel pada akhir Februari lalu. Jalur diplomasi melalui KBRI Teheran kini menjadi satu-satunya jembatan untuk memastikan aset strategis negara tersebut tidak menjadi korban “kerusakan kolateral” dalam perang terbuka di Timur Tengah.
Negosiasi di Tengah Kepungan Rudal
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya mengungkapkan bahwa kedua kargo Pertamina tersebut terpaksa “bersandar” untuk mencari posisi aman sementara negosiasi tingkat tinggi dilakukan. Meski situasi mencekam, Bahlil menegaskan ketahanan energi nasional masih terkendali berkat langkah cepat pemerintah mengalihkan sumber pasokan alternatif dari Amerika Serikat.
Namun, tantangan sebenarnya bukan sekadar pasokan, melainkan keselamatan awak kapal dan integritas aset di tengah Operation True Promise 4 (Operasi Janji Setia 4) milik Iran. Gelombang rudal balistik dan drone yang memenuhi langit Teluk menjadikan setiap pergerakan kapal tanker sebagai taruhan nyawa.
Catatan Akhir: Harga Sebuah Netralitas
Terjebaknya tanker PIS adalah pengingat keras bahwa kebijakan luar negeri “Bebas-Aktif” Indonesia kini sedang diuji oleh realitas geografis. Saat Indonesia baru saja menangguhkan diskusi Board of Peace milik Trump, tertahannya aset Pertamina oleh Iran memberikan tekanan tambahan bagi Jakarta untuk menyeimbangkan hubungan antara Teheran dan Washington. Kesuksesan diplomasi ini akan menjadi tolok ukur: apakah suara Indonesia masih didengar di tengah deru mesin perang Timur Tengah?
Verified Source: InfoPublik.id
BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:
Biaya “Gila” Perang Iran: Ketika Washington Membakar Triliunan Rupiah demi ‘Epic Fury’



