AMBARA

Satu Meja, Banyak Gengsi, dan Tagihan yang Masih Menggantung

​Istana Merdeka hari ini mendadak jadi ruang kelas Hubungan Internasional paling elite se-Asia Tenggara. Presiden Prabowo Subianto mengumpulkan para suhu: mantan Menlu, wakil Menlu, akademisi, sampai bos-bos Komisi I DPR. Agendanya? Tentu saja menjelaskan bahwa diplomasi kita sekarang bukan lagi sekadar “tebar pesona” di karpet merah, tapi diplomasi “cari makan” yang konkret.

​Prabowo, dengan gaya khasnya, seolah ingin bilang: “Lihat, saya sudah bawa oleh-oleh banyak, kok masih diprotes?” Mulai dari bergabung ke BRICS demi bisa satu tongkrongan sama Tiongkok dan Rusia, sampai tarif dagang 0% ke Uni Eropa yang bikin pengusaha kita senyum-senyum sendiri. Bahkan, sekarang kita punya “kavling” sendiri di Arab Saudi lewat Kampung Haji. Jadi, jemaah kita tidak perlu lagi merasa jadi musafir yang menumpang di rumah orang.

​Namun, di antara semua prestasi itu, ada satu gajah di dalam ruangan yang warnanya sedikit mencolok: Board of Peace (BoP).

AUDIT STRATEGIS GETNEWS: Diplomasi Realis ala Prabowo
Sektor CapaianHasil KonkretCatatan Kritis AMBARA
Tongkrongan GlobalResmi gabung BRICS.Akhirnya satu grup WhatsApp sama Putin dan Xi Jinping.
Logistik IbadahKampung Haji di Arab Saudi.Punya ‘kost-kostan’ sendiri, nggak perlu numpang tetangga lagi.
Status Keanggotaan BoPBelum bayar (Status: Uji Coba).Keanggotaan premium tapi masih pakai mode ‘free trial’ 3 tahun.
Sumber: GetNews Intel Unit

Soal BoP ini memang lucu. Banyak yang panik kita bakal langsung tekor USD 1 miliar atau sekitar 16 triliun rupiah lebih. Tapi ternyata, di Istana, Presiden memberikan klarifikasi yang sangat “fleksibel.” Ternyata BoP ini mirip-mirip aplikasi streaming film. Kita boleh bayar kalau mau jadi “anggota tetap” (premium), atau kalau mau yang gratisan ya boleh saja, tapi cuma berlaku 3 tahun. Saat ini, Indonesia cerdik: kita gabung dulu, gaya dulu bareng Arab Saudi dan Turki, tapi bayarnya? Nanti dulu, belum juga ditransfer.

​Pesannya jelas: Indonesia mau ikut mendamaikan Palestina bukan cuma lewat doa atau rapat-rapat yang makanannya enak, tapi lewat keterlibatan langsung di lapangan. Kita mau jadi pemain, bukan cuma penonton yang hobinya bikin thread di Twitter.

​Masalahnya sekarang, mampukah diplomasi “tanpa bayar dulu” ini bertahan lama? Atau jangan-jangan nanti pas tagihannya datang, kita mendadak sibuk pura-pura tidak dengar bel pintu berbunyi karena anggarannya sedang dipakai buat beli buku dan pena siswa di pelosok?

​Ya, semoga saja diplomasi kita memang benar-benar konkret, bukan cuma “konkret” di atas kertas berita, tapi “abstrak” bagi perut masyarakat bawah yang masih menanti tetesan tarif 0% itu sampai ke meja makan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *