Banyak dari kita bercita-cita hidup terbaik, tapi lupa untuk bercita-cita meninggal dalam kondisi terbaik.
Dunia modern adalah panggung kompetisi yang kejam. Kita dipaksa untuk terus mendaki: jabatan yang lebih tinggi, aset yang lebih mewah, dan validasi sosial yang lebih riuh. Kita begitu teliti menyusun rencana masa depan (future plan) hingga detail terkecil, namun seringkali amnesia pada satu titik kepastian yang paling absolut: kepulangan. Kita sibuk membangun rumah di tempat kita singgah, sementara tempat kita menetap dibiarkan terbengkalai.
Secara psikologis, obsesi pada pencapaian duniawi adalah bentuk pelarian dari rasa takut akan ketidakberadaan. Namun secara spiritual, keberhasilan sejati tidak diukur dari bagaimana kita memulai, melainkan bagaimana kita mengakhiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” — QS. Ali ‘Imran: 102
Pecahan Kontemplasi: Estafet Menuju Garis Akhir
1. Jebakan “Keberhasilan” yang Menipu
Banyak manusia yang “berhasil” di mata dunia, namun “bangkrut” di hadapan Pencipta. Nama baik di mata manusia seringkali hanyalah tirai tipis yang menutupi kelalaian hati. Cita-cita tertinggi seharusnya bukanlah tentang bagaimana dunia mengenang kita, melainkan bagaimana langit menyambut kita.
2. Ketakutan yang Mendewasakan
Takut tertinggal dari pencapaian kawan adalah rasa takut yang melelahkan. Namun, takut akan akhir yang buruk (su’ul khatimah) adalah ketakutan yang menyelamatkan. Ketakutan inilah yang akan menyaring setiap niat dan tindakan kita agar selalu berada dalam koridor rida-Nya. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya amalan itu ditentukan oleh akhirnya (penutupnya).” (HR. Bukhari).
3. Ambisi di Sela Tunduknya Hati
Bekerja dan berkarya adalah ibadah, namun jangan sampai ambisi tersebut membutakan kompas moral. Di sela-sela menyusun proposal bisnis atau mengejar karier, selipkan satu proposal paling krusial: permohonan agar hati tetap terjaga dalam iman saat napas terakhir berembus.
4. Seni Menjaga Ritme Iman
Husnul khatimah bukanlah hadiah undian yang datang tiba-tiba. Ia adalah buah dari konsistensi (istiqamah) dalam keseharian. Barangsiapa yang terbiasa hidup dalam mengingat Allah, maka Allah akan mudahkan lisannya menyebut nama-Nya di detik-detik terakhir.
| Fokus Perencanaan | Indikator Keberhasilan Dunia | Indikator Keberhasilan Akhirat |
|---|---|---|
| Status & Martabat | Jabatan, Gelar, dan Reputasi Publik | Qalbun Salim (Hati yang Selamat & Bersih) |
| Aset & Kekayaan | Properti, Tabungan, dan Investasi Fisik | Amal Jariyah & Ilmu yang Bermanfaat |
| Kondisi Akhir | Warisan Berlimpah & Tangis Kehilangan | Husnul Khatimah (Akhir yang Dicintai-Nya) |
| Orientasi Hidup | Pandangan Manusia (“Apa kata orang?”) | Pandangan Allah (Rida & Kasih Sayang-Nya) |
Vonis Nurani: Refleksi di Ujung Jalan
Pulang adalah kepastian yang tidak butuh undangan. Saat semua pencapaian dunia melepaskan genggamannya dari tangan kita, hanya satu yang akan menemani: kondisi hati saat bertemu dengan-Nya. Mari belajar takut dengan cara yang benar, agar kita bisa berharap dengan cara yang indah.
أَللّٰهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَا تِمَةِ وَلَا تَخْتِمْ عَلَيْنَا بِسُوْءِ الْخَا تِمَ
“Ya Allah akhirilah hidup kami dengan husnul khotimah dan janganlah engkau akhiri hidup kami dengan su’ul khotimah.”
Semoga saat waktu itu tiba, kita sedang berada dalam dekapan rida-Nya, lisan yang basah dengan zikir, dan jiwa yang tenang menuju tempat kembali. Aamiin yaa Rabb.




