MATARAM — Nusa Tenggara Barat (NTB) baru saja mencatatkan Vonis Keberhasilan dalam perang melawan stunting. Berdasarkan data konsolidasi per Desember 2025, angka stunting di Bumi Gora merosot tajam ke level 13,39%. Capaian ini tidak hanya melampaui target daerah (21,7%), tetapi secara dramatis berada jauh di bawah rata-rata nasional yang berada di angka 18,8%. GETNEWS melihat fenomena ini sebagai hasil dari Audit Manajerial yang disiplin antara Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota.
Anatomi Capaian: Mataram Memimpin, Sumbawa Barat Terendah
Data menunjukkan disparitas yang menarik untuk dibedah. Kota Mataram (6,57%) dan Sumbawa Barat (7,1%) muncul sebagai “juara” dalam menekan angka stunting. Namun, Lombok Timur (22,39%) masih menjadi Penyakit Kronis yang membutuhkan intervensi lebih masif. Gubernur Miq Iqbal melalui juru bicara Ahsanul Khalik menegaskan bahwa data per kabupaten/kota ini adalah “pijakan untuk memperkuat strategi.”
Anomali Januari 2026: Alarm Kasus Baru
Meski sukses besar di 2025, munculnya 0,6% (1.890 kasus) stunting baru pada Januari 2026 menjadi pengingat bahwa ini bukan pekerjaan musiman. Penambahan kasus di Lombok Barat (1,0%) dan Lombok Tengah (0,9%) menunjukkan bahwa Audit Hulu—terutama pada pola asuh dan asupan gizi ibu hamil—belum sepenuhnya kedap bocor. “Pencegahan dimulai dari keluarga,” tegas Miq Iqbal sebagai pesan sentral untuk menjaga momentum penurunan ini.
Vonis Redaksi: Menuju Generasi Emas NTB
Vonis Redaksi GetNews menegaskan bahwa integrasi antara Desa Berdaya dan program gizi adalah senjata utama Miq Iqbal. Keberhasilan menurunkan stunting di bawah rata-rata nasional adalah Kredit Politik yang mahal, namun ujian sesungguhnya adalah konsistensi di tahun 2026. Fokus pada pemenuhan Pita LILA dan “Aksi Bergizi” di sekolah harus dipastikan bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah Audit Nutrisi harian yang menyentuh piring makan balita di pelosok.
“Satu anak yang terbebas dari stunting adalah satu langkah nyata menuju kedaulatan masa depan; karena bangsa yang besar tidak dibangun dari gedung pencakar langit, melainkan dari kesehatan balita di meja makan keluarga.”
— GET !NSIGHT AUDIT KESEHATAN PUBLIK —
Verifikasi Data & Otoritas
Sumber Primer: Diskominfotik Provinsi NTB




