JAKARTA — Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mendatangi Gedung Nusantara I DPR RI dengan koper penuh angka capaian. Dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR RI, Selasa, 3 Februari 2026, Brian membedah rapor kinerja kementeriannya sepanjang tahun anggaran 2025 yang diklaim melampaui target administratif.
Dengan pagu jumbo sebesar Rp58,51 triliun, Kemdiktisaintek berhasil menyerap anggaran hingga 94,83 persen. Namun, Brian menegaskan bahwa efektivitas tidak hanya diukur dari seberapa habis uang negara, melainkan seberapa besar dampaknya bagi mahasiswa di ujung tombak pembangunan.
Inklusi di Garis Depan: KIP Kuliah dan Beasiswa 3T
Di tengah kritik soal mahalnya biaya pendidikan tinggi, Kemdiktisaintek memamerkan daya jangkau program sosialnya. Sepanjang 2025, Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah diklaim telah menyentuh 115.595 mahasiswa. Tak hanya itu, skema Beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik) menyasar 13.845 penerima, memprioritaskan putra-putri dari daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
“Masukan Komisi X menjadi referensi utama bagi kami untuk terus memperkuat kinerja yang berorientasi pada hasil, bukan sekadar prosedur,” ujar Brian Yuliarto di hadapan para legislator.
Paradigma “Diktisaintek Berdampak” 2026
Memasuki tahun 2026, Brian memperkenalkan jargon baru: Diktisaintek Berdampak. Kebijakan ini dirancang untuk memangkas beban administratif dosen dan birokrasi kampus, lalu mengalihkannya pada output nyata bagi dunia usaha dan masyarakat.
Salah satu terobosan yang disorot adalah rencana pemanfaatan Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai standar baru penguatan kualitas input mahasiswa di jenjang pendidikan tinggi.
Catatan dari Senayan
Meski angka perencanaan mencapai skor 93,93 persen (predikat sangat baik dari Bappenas), Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian tetap memberikan catatan tebal. Parlemen mendorong agar kinerja di tahun 2026 tidak terjebak pada angka-angka di atas kertas, tetapi selaras dengan visi inklusivitas pendidikan.
”Kami berharap rencana kerja 2026 dilaksanakan secara terukur dan memberikan dampak nyata bagi kemajuan ekosistem sains dan teknologi kita,” ujar Hetifah menutup rapat. Tantangan kini ada di pundak kementerian untuk membuktikan bahwa anggaran triliunan rupiah tersebut mampu mengonversi gelar akademik menjadi solusi nyata bagi industri.
Verified Source: InfoPublik.id




