MATARAM — Jika ekonomi perdesaan Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah sebuah panggung sandiwara, maka bulan Februari 2026 adalah milik para petani cabai dan sayur-sayuran. Berdasarkan data terbaru BPS, Nilai Tukar Petani (NTP) NTB tercatat sebesar 131,25, naik tipis 0,72 persen dibanding bulan sebelumnya. Angka di atas 100 ini secara teknis menandakan bahwa daya beli petani kita masih dalam kondisi “gagah”, meski ada ketimpangan tajam antar-subsektor.
Namun, di balik angka agregat yang terlihat stabil, ada drama kenaikan harga barang konsumsi yang mulai membayangi hasil keringat para petani di ladang.
Sang Jawara: Ledakan Hortikultura
Subsektor Hortikultura menjadi bintang utama dengan kenaikan NTP mencapai 5,01 persen, menyentuh angka fantastis 249,88. Lonjakan ini dipicu oleh meroketnya harga kelompok sayur-sayuran, terutama cabai rawit, cabai merah, dan bawang merah yang harganya sedang “pedas-pedasnya” di pasar. Bagi petani hortikultura, ini adalah masa panen raya secara finansial—indeks harga yang mereka terima naik jauh lebih tinggi (6,32%) dibandingkan biaya hidup dan modal yang harus mereka keluarkan (1,25%).
Di sisi lain, subsektor Peternakan dan Perikanan juga ikut menyumbang tren positif dengan kenaikan tipis, menjaga napas ekonomi di pesisir dan sentra ternak tetap stabil.
Sisi Gelap: Perkebunan Rakyat yang Tergerus
Kontras dengan kemeriahan di ladang cabai, para petani di subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat justru harus mengurut dada. NTP mereka anjlok 1,65 persen ke angka 101,36. Penyebabnya klasik namun menyakitkan: harga jual komoditas perkebunan turun 1,00 persen, sementara biaya hidup mereka justru naik 0,66 persen. Situasi serupa dialami petani Tanaman Pangan yang daya belinya turun 0,47 persen akibat kenaikan harga gabah yang tak mampu mengejar laju inflasi rumah tangga.
Catatan Akhir: Waspada Indeks Konsumsi
Meningkatnya NTP secara keseluruhan adalah kabar baik, namun kenaikan Indeks Konsumsi Rumah Tangga sebesar 1,00 persen—yang dipicu oleh mahalnya makanan dan utilitas—adalah peringatan dini. Jika harga barang kebutuhan pokok di desa terus merangkak naik melebihi harga jual komoditas petani, maka kemakmuran semu ini akan segera berakhir. Petani NTB memang sedang menikmati harga jual yang tinggi, namun mereka juga harus membayar lebih mahal untuk sekadar mengisi piring makan mereka sendiri.
BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:
Rinjani Bukan Bukit Teletubbies: Gubernur Iqbal dan Strategi Menyingkirkan Pendaki “Low Budget”



