MATARAM — Jika pariwisata adalah sebuah panggung hiburan, maka bulan Januari 2026 di Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah jeda singkat setelah gegap gempita pesta akhir tahun. Berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) terbaru, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang di NTB berada di angka 35,01 persen. Angka ini memang turun 6,97 poin dibandingkan Desember lalu, namun di balik penurunan musiman ini, geliat hotel mewah justru menjadi catatan yang menarik.
Januari mungkin menjadi bulan “istirahat” bagi sebagian orang, namun bagi industri perhotelan di bumi Gora, ini adalah pembuktian daya tahan pasar.
Hotel Mewah Masih Menjadi Magnet
Meskipun secara keseluruhan terjadi penurunan okupansi, hotel bintang 5 tetap menjadi primadona dengan TPK tertinggi mencapai 38,78 persen. Disusul kemudian oleh hotel bintang 3 yang mencatatkan tingkat hunian sebesar 36,80 persen. Menariknya, di saat kelas hotel lain lesu, hotel bintang 1 justru menunjukkan anomali dengan sedikit peningkatan hunian sebesar 1,65 poin.
Bagi para tamu, pilihan menginap tampaknya masih condong ke hotel bintang 4, yang menampung lebih dari 41 ribu orang atau sekitar 40,74 persen dari total tamu hotel berbintang.
Durasi Menginap: Tamu Domestik yang Lebih Setia
Dari total 101.179 tamu yang menginap di hotel bintang, mayoritas masih didominasi oleh wisatawan dalam negeri (69,74 persen). Namun, jika bicara soal kesetiaan menghabiskan waktu, tamu hotel bintang 5 adalah jagonya dengan Rata-rata Lama Menginap (RLM) mencapai 2,58 hari. Secara akumulatif, RLM hotel bintang pada Januari 2026 justru naik tipis menjadi 1,86 hari dibandingkan bulan sebelumnya.
Geliat ini juga didukung oleh pergerakan di udara. Meskipun jumlah wisatawan mancanegara yang melalui BIZAM turun 18,27 persen, jumlah wisatawan nusantara masih tercatat sangat masif, yakni mencapai 1,19 juta orang sepanjang Januari.
Analisis Akhir: Menuju Pemulihan yang Lebih “Deep”
Melihat penurunan TPK yang bersifat musiman, pariwisata NTB sebenarnya tidak dalam kondisi “sakit”. Tantangan ke depan adalah bagaimana mengubah tren wisatawan nusantara yang masif ini agar tidak hanya sekadar singgah sebentar (rata-rata 1,5 hari di hotel non-bintang) menjadi kunjungan yang lebih berkualitas dan panjang. Surplus jumlah wisatawan ini harus diimbangi dengan diversifikasi atraksi agar angka RLM tidak hanya bergantung pada fasilitas hotel mewah semata, tapi juga pada pengalaman unik di luar tembok penginapan.
BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:
Rinjani Bukan Bukit Teletubbies: Gubernur Iqbal dan Strategi Menyingkirkan Pendaki “Low Budget”



