Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, sepertinya tahu betul cara menjinakkan hati rakyat di basis massa Lombok Timur. Bertamu ke Desa Danger, Minggu (18/1/2026), sang mantan Dubes ini tidak datang dengan tangan kosong atau sekadar pidato normatif. Ia membawa narasi “The Power of Voluntarism” untuk memuji 41 ribu kader Posyandu, sekaligus menebar jaring ekonomi lewat skema pinjaman tanpa bunga yang “sat-set” teratasi lewat BPR NTB. Iqbal sedang memainkan ritme diplomasi akar rumput: puji pengabdiannya, lalu suntik modalnya.
Analisis Tajam: Diplomasi Berugak dan “Pukulan” Kemiskinan
Tim GET !NSIGHT membedah manuver Iqbal di Desa Danger sebagai langkah pragmatis-strategis:
- Posyandu sebagai Alat Diplomasi: Menjual cerita “Kekaguman Menteri Kanada” di hadapan emak-emak kader Posyandu adalah cara cerdas memvalidasi harga diri relawan yang selama ini bekerja dengan insentif receh. Iqbal ingin menegaskan: Anda adalah pahlawan dunia, meski anggarannya terbatas.
- Perang Melawan Rentenir: Skema pinjaman Rp100 juta tanpa bunga di BPR NTB adalah upaya langsung memotong jalur tengkulak dan bank subuh. Dengan menyubsidi seluruh biaya administrasi dan asuransi, Iqbal ingin memastikan UMKM lokal siap menyuplai bahan baku untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG)-nya Prabowo. Ini adalah sinkronisasi kebijakan pusat-daerah yang rapi.
- Literasi vs Infrastruktur: Pernyataan Iqbal bahwa “Infrastruktur tak bermakna jika rakyat miskin” adalah kritik halus bagi rezim-rezim pemuja aspal. Donasi 100 buku dan berugak baca menunjukkan ia ingin membangun “otak” sebelum “jalan”.
Resume Fakta: Paket Intervensi Iqbal di Desa Danger
Satu Barisan atau Sekadar Janji?
Iqbal mengunci sambutannya dengan instruksi keras kepada seluruh OPD: “Satu barisan!”. Ini adalah peringatan bagi birokrat di kantor-kantor dinas agar jangan ada yang “main sendiri” di luar tiga agenda besar (Kemiskinan, Pariwisata, Pangan).
Namun, tantangannya tetap satu: Bagaimana memastikan dana Rp100 juta di BPR NTB itu tidak macet karena urusan administrasi di tingkat bawah yang seringkali lebih rumit dari pidato Gubernur. Rakyat Danger sudah dijanjikan “surga” tanpa bunga, sekarang tinggal menanti apakah BPR NTB bisa secepat gaya bicara Iqbal dalam mencairkan modal.




