AMBARA

Strategi ‘Merem’ ala Pak Prabowo—Tutorial Menghindari Teman yang Hobi Melanggar Aturan

AMBARA – ​Pernah nggak sih kalian berada di posisi dilematis: tahu teman salah, tapi kalau mau negur kok nggak enak, apalagi kalau mau laporin ke polisi? Nah, Presiden Prabowo ternyata punya trik jitu buat ngadepin situasi kayak gitu dalam skala negara. Caranya? Jangan dilihat daftar dosanya!

​Di tengah acara Panen Raya di Karawang, Pak Prabowo curhat kalau dia baru saja disodorin daftar puluhan perusahaan bandel yang izinnya mau dicabut. Bukannya buru-buru pakai kacamata buat ngecek siapa tahu ada “jatah” di situ, beliau malah nolak buat lihat. Alasannya jujur banget dan sangat manusiawi: takut ada nama teman atau kader partai sendiri di situ. Ibarat lagi diet tapi disodorin daftar menu martabak manis favorit, mending jangan dilihat daripada iman goyah, kan?

​Strategi “Merem” ini sebenarnya adalah audit mental yang cerdas. Pak Prabowo sadar kalau dia itu manusia biasa yang punya rasa “nggak enakan”. Daripada nanti pas lihat nama temannya terus mendadak kena penyakit amnesia hukum atau mendadak pengen kasih diskon hukuman, mending instruksinya dibikin satu arah saja: “Yang melanggar, tindak!” Titik. Nggak pakai koma, nggak pakai tafsir bahasa Sansekerta. Pakai bahasa Indonesia yang jelas, sejelas Pasal 33 UUD 1945 yang beliau kutip.

​Analisis getnews+ melihat ini sebagai bentuk self-awareness tingkat tinggi. Di negeri di mana “jalur orang dalam” sering jadi kunci sakti, Presiden lebih memilih jalur “nggak mau tahu siapa orang dalamnya”. Ini adalah pesan kuat buat para menteri dan aparat: kalau bosnya saja nggak mau tahu siapa pelakunya, ya menteri jangan coba-coba main mata. Jadi, buat para pengusaha yang merasa “teman dekat” atau “kader partai”, kayaknya tahun 2026 ini bukan waktu yang tepat buat minta tolong lewat jalur belakang. Karena pintu belakangnya lagi dikunci, dan yang punya kunci lagi pura-pura nggak dengar ketukan pintu kalian.

GET !NSIGHT: AUDIT MENTAL
Logika “Gak Mau Tahu” demi Keadilan
Unsur AuditStrategi PresidenStatus Integritas
Konflik KepentinganMenolak melihat daftar nama perusahaan pelanggarSANGAT TINGGI
Instruksi Eksekusi“Yang melanggar, tindak!” (Tanpa tafsir)LUGAS & TEGAS
Landasan HukumAmanat Pasal 33 UUD 1945 (Hak Rakyat)KONSTITUSIONAL
Manajemen RelasiMenghindari “rasa tidak enak” pada kroniPRAGMATIS-IDEAL
*Karena cara terbaik menghadapi godaan “orang dalam” adalah dengan tidak melihat wajahnya.

Kadang-kadang, cara terbaik untuk bersikap adil adalah dengan menutup mata terhadap siapa yang sedang kita hakimi. Pak Prabowo sedang mempraktikkan filosofi Lady Justice (Dewi Keadilan) yang matanya tertutup kain. Bedanya, kalau Dewi Keadilan itu patung, Pak Prabowo itu Presiden yang lagi berusaha keras biar nggak baperan gara-gara nama teman di atas kertas sita izin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *