JAKARTA, GETNEWS. – Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menetapkan target ambisius untuk menyelesaikan pembangunan Hunian Sementara (Huntara) bagi korban banjir dan longsor di Aceh sebelum pertengahan Februari 2026. Langkah ini diambil agar ribuan keluarga terdampak dapat menyambut bulan suci Ramadan dalam kondisi yang lebih layak, aman, dan tidak lagi berada di tenda pengungsian.
Kepala Pusdatin BNPB, Abdul Muhari, menegaskan bahwa paralel dengan pembangunan fisik, pemerintah juga memastikan aspek legalitas lahan telah tuntas guna menghindari konflik sosial di masa depan.
Peta Pemulihan Infrastruktur Dasar Aceh
Fokus pembangunan saat ini tersebar di wilayah terdampak paling parah dengan mengedepankan dua kebutuhan dasar: Papan dan Air Bersih.
| Fokus Pemulihan | Wilayah Prioritas & Aksi Nyata |
|---|---|
| Pembangunan Huntara | Aceh Utara, Aceh Tengah, Bener Meriah, & Aceh Tamiang. (Target Selesai: Pertengahan Feb 2026). |
| Status Lahan | Clean and Clear melalui penetapan lokasi dan dana pemulihan lahan kepada masyarakat. |
| Krisis Air Bersih | Pembangunan puluhan titik Sumur Bor & distribusi Truk Tangki (Utamanya di Aceh Tamiang). |
| Mitigasi Lanjutan | Sinergi TNI, Polri, dan Relawan dalam distribusi logistik harian. |
Sumur Bor sebagai Solusi Jangka Panjang
Khusus di wilayah Aceh Tamiang, di mana jaringan PDAM mengalami kerusakan berat, pembangunan sumur bor menjadi atensi khusus. Fasilitas ini dirancang tidak hanya untuk kebutuhan darurat di lokasi Huntara, tetapi juga akan diintegrasikan menjadi sumber air bersih bagi hunian tetap (Huntap) di masa mendatang.
Sinergi untuk Ramadan yang Layak
Pemerintah optimistis dengan kolaborasi antara kementerian teknis dan aparat keamanan, proses pemulihan Aceh akan berjalan berkelanjutan. Target “Ramadan di Rumah” bukan sekadar janji administratif, melainkan bentuk komitmen negara dalam memanusiakan warga yang terdampak bencana paling hebat di akhir tahun 2025 ini.
infopublik.id




