MATARAM — Pemerintah melalui Perum Bulog Kantor Wilayah Nusa Tenggara Barat menetapkan target serapan gabah dan beras yang agresif untuk tahun 2026, yakni sebesar 240.660 ton setara beras. Target ini melonjak signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, menyusul apresiasi dari Menteri Pertanian atas performa NTB sebagai salah satu kontributor pangan terbesar di Indonesia, Minggu (25/1/2026).
Mobilisasi Gudang dan Tim Jemput Pangan
Kepala Kanwil Bulog NTB, Mara Kamin Siregar, menyatakan bahwa strategi utama tahun ini adalah percepatan serapan saat panen raya melalui kolaborasi dengan mitra penggilingan dan sewa gudang swasta untuk memperluas kapasitas simpan. Selain itu, Bulog mengaktifkan Tim Jemput Pangan (TJP) yang bersinergi dengan TNI dan pemerintah daerah guna memantau titik panen secara real-time dan memastikan harga di tingkat petani tidak anjlok di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP).
Stabilitas Harga Petani
Bulog mengonfirmasi bahwa skema harga pembelian masih merujuk pada ketentuan HPP yang ketat: GKP Rp6.500/kg, GKG Rp8.200/kg, dan Beras Rp12.000/kg. Langkah ini diambil untuk melindungi pendapatan petani sekaligus menjamin ketersediaan stok cadangan beras pemerintah (CBP) di tengah dinamika pasar global yang fluktuatif.




