OASE

Tempat Pulang yang Paling Tulus

Jalaludin Rumi (The Ethics Centre/getnews)

​Maulana Jalaluddin Rumi, sang empu kerinduan ilahi, pernah membedah rahasia halus tentang psikologi cinta manusia. Ia menyingkap perbedaan mendasar antara ke mana hati melangkah saat fajar kebahagiaan menyapa, dan ke mana kaki menyeret langkah saat senja kesedihan tiba.

Ekspresi Bahagia: Berbagi Tawa

​Kalimat “Ketika kau senang, kau akan pergi pada orang kau cinta” adalah cermin sifat ekspresif manusia. Kebahagiaan menciptakan luapan energi yang menuntut untuk dibagikan. Saat hati berbunga, kita secara naluriah mencari mereka yang menjadi objek cinta kita untuk menunjukkan rasa memiliki, kebanggaan, dan kedekatan. Di titik ini, cinta adalah tentang perayaan bersama.

Kesedihan: Mencari Rahim Perlindungan

​Namun, Rumi memberikan kontras yang menyentuh: “Tapi ketika kau sedih, kau akan pergi pada orang yang mencintaimu.” Saat luka menganga dan dunia terasa sempit, ego kita luruh. Kita tidak lagi mencari tempat yang sekadar menyenangkan, melainkan tempat yang aman (safe haven).

​Orang yang mencintai kita tanpa syarat adalah pelukan batin yang tidak menghakimi. Di hadapan mereka, kita berani menunjukkan kerapuhan tanpa takut dianggap lemah. Dicintai berarti diberi hak untuk menjadi tidak utuh, namun tetap diterima sepenuhnya.

Muara Spiritual: Kembali kepada Sang Pencinta

​Secara lebih mendalam, Rumi sejatinya sedang membicarakan hubungan abadi antara hamba dan Sang Khalik. Saat bahagia, manusia sering terlena dengan objek-objek duniawi yang dicintainya. Namun, saat duka menjemput, ia akan bersujud kembali kepada Allah—Zat yang mencintainya tanpa jeda, bahkan di saat ia lupa mencintai dirinya sendiri.

Untaian Hikmah Al-Qur’an & Hadits

​Sejalan dengan pesan Rumi tentang tempat kembali yang paling tulus, Allah SWT dan Rasul-Nya telah memberikan panduan:

1. Allah Adalah Pelindung yang Mencintai Hamba-Nya

Dalam kesedihan, hanya Allah tempat pulang yang tidak akan pernah menolak.

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)…” (QS. Al-Baqarah: 257)

2. Hadits Tentang Cinta Allah yang Melampaui Segalanya

Dari Umar bin Khattab RA, Rasulullah SAW melihat seorang ibu yang memeluk anaknya dengan penuh kasih, lalu beliau bersabda:

“Tentu Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Hikmah Oase: Jika pelukan manusia yang mencintai kita saja sudah cukup menenangkan saat sedih, bayangkan betapa damainya hati jika ia pulang kepada Zat yang cintanya melampaui kasih sayang ibu kepada bayinya.

“Ketika kau senang, kau akan pergi pada orang yang kau cinta.
Tapi ketika kau sedih, kau akan pergi pada orang yang mencintaimu.”

Maulana Jalaluddin Rumi

OASE BATIN | GETNEWS+

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *