LITERASI ANOMALI

Teori Hukum Murni, Skandal dan Cinta yang Menjadi Komoditas Ilegal

ILUSTRASI SELINGKUH (Istimewa)

MENURUT RILIS data terbaru dari Kementerian Kesucian Publik, indeks moralitas warga di Distrik Selatan (sebut saja Sektor D) naik 12% pada kuartal ini. Angka ini berbanding lurus dengan jumlah warga sipil yang dijebloskan ke Kamp Edukasi karena lupa membungkuk saat mobil dinas Sang Bupati lewat. Di Republik ini, moralitas bukanlah nilai filosofis kuno; ia adalah metrik kinerja yang dingin, Key Performance Indicator (KPI) yang bisa ditukar dengan kucuran dana tak terbatas dari Pusat.

Namun, layaknya pasar saham, selalu ada insider trading di bursa moral negara.

Sang Bupati (sebut saja Tuan B), arsitek dari segala kampanye anti-maksiat dan penjaga moralitas Sektor D, memiliki anomali kegemaran. Di balik pidatonya yang berapi-api soal ketahanan keluarga negara, ia diam-diam sering memberikan “Bimbingan Rohani Ekstra” di ranjang hotel bintang lima. Pasien bimbingannya? Istri-istri para birokrat rendahan yang pura-pura buta demi kelancaran promosi jabatan.

Salah satu objek bimbingan itu bernama Laila. Dan di sudut ruang arsip yang dingin dan berdebu, ada Harman.

Harman adalah seorang pegawai rendahan di Sektor D. Ia bukan pahlawan, bukan pula pembangkang. Ia hanyalah pria kesepian yang mencintai Laila sejak mereka sama-sama memakai seragam putih abu-abu di era sebelum kudeta. Cinta Harman adalah jenis cinta yang bisu, tak berbalas, dan secara statistik sangat menyedihkan. Laila selalu menganggap Harman tak lebih dari bayangan; ia lebih memilih menikahi seorang kepala seksi yang ambisius, yang pada akhirnya “menyerahkan” Laila kepada Tuan B sebagai upeti politik.

Suatu malam, saat sedang merapikan metadata peladen distrik, Harman tak sengaja menemukan fail terenkripsi. Isinya membuat dadanya mendidih: sebuah salinan digital “Kwitansi Uang Damai” senilai 300 juta kredit negara, ditambah rekaman CCTV “bimbingan rohani” Laila dan Tuan B.

Malam itu, Harman memutuskan menjadi ksatria. Di kepalanya yang mabuk asmara, ia meyakini bahwa jika ia berhasil membongkar kebusukan Tuan B, Laila akan diselamatkan dari eksploitasi. Laila akan menangis di pelukannya, menyadari bahwa pahlawan sejatinya tidak pernah memakai lars negara, melainkan kemeja usang petugas arsip.

Harman mencuri data itu dan membawanya kepada Sang Profesor Tua, ZA. Profesor ZA adalah sisa-sisa peradaban akal sehat, seorang puritan yang masih memuja “Teori Hukum Murni”. Ketika kelompok militan bawah tanah menawarkan untuk memobilisasi massa, membakar kantor distrik, dan menggantung Tuan B di alun-alun, Profesor ZA menolak keras.

“Kita tidak akan menggunakan cara barbar atau intervensi politik,” ujar sang Profesor, membetulkan kacamatanya yang retak. “Hukum murni tidak butuh massa yang berteriak. Kita punya bukti kwitansi 300 juta. Kita punya bukti perselingkuhan. Kita akan seret Sang Bupati ke Mahkamah Kebenaran. Jika hukum gagal berpihak pada kebenaran ini, saya akan mundur dari dunia akademik selamanya!” tegasnya.

Mahkamah Kebenaran pun digelar secara tertutup. Harman berdiri di kursi saksi dengan jantung berdebar. Ia sudah membayangkan adegan romantis di akhir sidang. Tuan B digiring ke penjara, lalu Laila berlari ke arahnya.

Tetapi, bung, doublethink Orwellian tidak bekerja seperti opera sabun.

Hakim Agung—yang kebetulan adalah rekan main golf Tuan B—mengetuk palu perak. Dalam sekejap, bukti kwitansi 300 juta rupiah itu direklasifikasi oleh jaksa negara sebagai “Sumbangan Sukarela untuk Pembangunan Fasilitas Panti Asuhan Distrik”. Sementara bukti video di hotel direvisi dalam Berita Acara sebagai “Rapat Strategis Ketahanan Pangan dengan Staf Ahli Eksternal”.

Lalu, tibalah pukulan paling mematikan bagi Harman. Laila dipanggil ke mimbar saksi.

Harman menatap wanita itu dengan mata berkaca-kaca, mengirimkan sinyal putus asa: Laila, aku melakukan semua ini untuk membebaskanmu.

Namun Laila, yang hari itu mengenakan balutan sutra mahal pemberian Tuan B, menatap Harman dengan tatapan yang sedingin es dan penuh kejijikan.

“Saya tidak pernah dilecehkan, dipaksa, apalagi diselingkuhi,” suara Laila menggema di ruang sidang, jernih tanpa keraguan. “Hubungan saya dengan Yang Mulia Bupati adalah murni profesional demi kemajuan negara. Pria di kursi saksi bernama Harman ini hanyalah seorang penguntit gila. Ia memalsukan dokumen negara karena cintanya saya tolak bertahun-tahun yang lalu.”

Dunia Harman runtuh saat itu juga. Hatinya tidak hancur oleh palu hakim, melainkan oleh bibir berlapis lipstik merah wanita yang paling ia cintai. Laila tidak sedang dicuci otaknya; ia hanya lebih menyukai kenyamanan, kekuasaan, dan aroma kemewahan di pelukan tirani, ketimbang kebebasan di gubuk reot seorang pengarsip.

Hari itu, Profesor ZA dilucuti dari semua gelar akademiknya atas tuduhan “Tindak Pidana Subversi Teori Hukum”, menghabiskan masa tuanya sebagai penyapu jalan di depan Mahkamah.

Sementara Harman diseret oleh dua penjaga bertopeng menuju Van Pembersih. Saat pintu baja van hendak ditutup rapat, dari celah sempitnya, Harman melihat Laila berjalan anggun keluar dari ruang sidang. Wanita itu tersenyum manis, mengapit lengan Tuan B, dan berbisik manja sambil masuk ke dalam limosin hitam negara.

Keesokan harinya, Getnews mungkin akan menurunkan analisis tajam di kolom politik mereka: “Indeks Kepercayaan Publik terhadap Kepemimpinan Dompu menyentuh angka absolut 99% pasca-pembersihan elemen radikal dari tubuh birokrasi. Pasar menyambut baik stabilitas ini. Saham jaringan hotel mewah melonjak 4%.”

Di Sektor D, kebenaran hukum murni adalah mitos, dan cinta yang bertepuk sebelah tangan tak hanya meremukkan hati—ia melegitimasi kediktatoran itu sendiri.

Hukum murni tidak butuh massa yang berteriak. Namun di hadapan ‘Doublethink’, bukti kwitansi hanyalah sumbangan sukarela bagi penguasa.

— Fragmen: LITERASI ANOMALI

CERITA LAINNYA DARI LITERASI ANOMALI:

H2SO4, Cinta, dan Mata yang Lupa Cara Menangis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *