Peristiwa Sumatra Barat

Terapi Dongeng vs Gadget: Kemkomdigi Gunakan Storytelling untuk Redakan Trauma Anak Korban Banjir Sumbar

Aktivis pelindungan anak Maia Janitra sedang mendongeng untuk anak terdampak banjir dan longsor di Posko Pengungsian Akademi Maritim Sapta Samudra, Koto Tengah, Kota Padang, Sumatra Barat, Jumat (5/12/2025). (Foto: Tri Antoro/IGID-InfoPublik))

PADANG, getnews – Mobil Dukungan Psikososial dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) berperan besar dalam pemulihan trauma anak-anak korban banjir dan longsor di Sumatra Barat. Program utama yang diterapkan adalah sesi mendongeng, yang dinilai jauh lebih efektif meredakan kecemasan dibandingkan membiarkan anak bermain gawai.

​Aktivis Anak, Maia Janitra, menjelaskan di Posko Pengungsian Koto Tengah, Padang, Jumat (5/12/2025), bahwa mendongeng menjadi jembatan emosional yang vital.

Mendongeng: Kunci Mengelola Emosi dan Menghilangkan Tantrum

​Maia menegaskan bahwa mendongeng adalah sarana efektif untuk mengembalikan semangat dan melatih kemampuan berpikir anak, yang sangat berbeda dengan gawai yang cenderung membuat anak larut dalam dunia sendiri.

“Saat bercerita, kita bisa mengenal dunia anak-anak lebih dalam. Mereka menjadi lebih tenang, tidak mudah tantrum, dan lebih mampu mengelola emosi,” jelasnya.

​Aktivitas interaktif ini membantu pendamping memahami persepsi unik anak tentang kehilangan—misalnya, anak yang menganggap barang yang hilang sebagai bagian dari status sosial. Setelah mendengarkan cerita, anak-anak yang sebelumnya takut saat hujan turun, tampak lebih tenang.

Sejalan dengan PP Tunas: Perisai Ganda untuk Anak

​Program dukungan psikososial Kemkomdigi ini berjalan seiring dengan implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas).

  • Fungsi PP Tunas: Mengatur akses digital berdasarkan usia, mewajibkan platform menyediakan filter usia, dan perlunya persetujuan orang tua untuk melindungi anak dari konten negatif di media sosial dan game online.

​Kombinasi antara terapi literasi di dunia nyata dan pelindungan digital melalui PP Tunas diharapkan menjadi perisai ganda yang memungkinkan anak tumbuh sehat, baik emosional maupun digital.

“Ajak anak berinteraksi dan cintai kembali dunia literasi. Satu buku bisa membuka banyak wawasan dan membantu anak menenangkan emosinya,” tutup Maia.

infopublik.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *