“Persaingan menuju kursi Sekda NTB mencapai puncak. Dengan tiga nama di meja Gubernur, transisi birokrasi NTB kini memasuki fase krusial: memilih antara pengawas anggaran, lobi pusat, atau penguasa lapangan.”
GETNEWS+ – Teka-teki siapa pengisi kursi Sekretaris Daerah (Sekda) NTB mulai menemui titik terang. Jumat sore (9/1/2026), Panitia Seleksi (Pansel) resmi menyetorkan tiga nama “jawara” ke meja Gubernur NTB di Pendopo: Abul Chair, Ahmad Saufi, dan Ahsanul Khalik.
Ketua Pansel, Prof. Riduan Mas’ud, mengungkapkan bahwa ketiga nama ini memiliki kualitas yang hampir identik. Saking setaranya, pansel tidak butuh waktu lama untuk berembuk karena skor dari lima penguji nyaris seragam. Namun, di balik angka-angka tersebut, tersimpan profil kekuatan yang sangat kontras satu sama lain.
Analisis Strategis: Membedah Kekuatan Tiga Besar
Tim analisis getnews+ melihat bahwa Gubernur Iqbal kini memegang tiga “kartu as” dengan spesialisasi berbeda:
- Abul Chair: Sosok auditor dari BPKP Jatim yang membawa genetika kepemimpinan (cucu Gubernur NTB pertama). Keunggulannya adalah tata kelola keuangan dan pengawasan.
- Ahmad Saufi: Representasi “Orang Pusat” dari Kemenko PMK yang memiliki jaringan luas di level kementerian. Sosok ini bisa menjadi jembatan emas untuk melobi anggaran dan kebijakan nasional.
- Ahsanul Khalik: Satu-satunya kandidat dari internal Pemprov yang sedang “naik daun” sebagai Kadis Kominfotik. Ia adalah penguasa medan dan eksekutor lapangan yang paling paham ritme birokrasi NTB saat ini.
“Untuk mencari tiga besar, nilai dari kelima anggota tim pansel itu tidak jauh beda. Selisihnya hanya nol koma sekian. Sekarang kewenangan penuh ada pada Gubernur sesuai ketentuan perundang-undangan.”
Audit Profil: Membedah Tiga “Matahari” Biokrat
Berikut adalah peta perbandingan tiga calon Sekda NTB untuk memandu pembaca melihat siapa yang paling cocok mendampingi Iqbal:
Bola Panas di Pendopo
Tuntasnya tugas pansel memindahkan bola panas ke tangan Gubernur Iqbal. Dengan selisih nilai yang sangat tipis, pertimbangan Iqbal bukan lagi soal siapa yang paling pintar secara administratif, melainkan siapa yang paling “sefrekuensi” dengan gaya kepemimpinannya yang fast-track dan berorientasi global.
Keputusan ini akan dikirim ke Mendagri, namun semua orang tahu, pilihan Gubernur adalah penentu arah gerak NTB selama lima tahun ke depan. Siapa yang akan dipilih? Auditor, Diplomat Pusat, atau si Penguasa Medan?




