JAKARTA — Kabar duka menyelimuti tanah air pada Sabtu (28/3/2026). Prof. Dr. Juwono Sudarsono, sosok yang memecahkan “langit-langit kaca” dalam sejarah pertahanan Indonesia, telah berpulang. Sebagai menteri pertahanan sipil pertama di era reformasi, Juwono tidak hanya memegang jabatan; ia mendefinisikan ulang hubungan antara militer dan negara. Di tangan seorang profesor Ilmu Hubungan Internasional UI inilah, transformasi TNI menuju tentara profesional yang menjauhi ranah politik dimulai dengan langkah-langkah yang elegan namun kokoh.
Juwono Sudarsono adalah antitesis dari bayangan menteri pertahanan yang gahar. Ia menghadapi jenderal-jenderal dengan kekuatan argumen dan penguasaan geopolitik yang luar biasa. Baginya, pertahanan bukan hanya soal jumlah peluru atau tank, melainkan soal kedaulatan yang dibangun di atas fondasi diplomasi dan ekonomi yang kuat. Keberhasilannya menjabat sebagai Menteri Pertahanan di bawah dua presiden yang berbeda (Abdurrahman Wahid dan Susilo Bambang Yudhoyono) adalah bukti nyata bahwa integritasnya melampaui sekat-sekat faksi politik.
Legacy: Supremasi Sipil Tanpa Konfrontasi
Warisan terbesar Juwono adalah kemampuannya menanamkan prinsip supremasi sipil tanpa menciptakan kegaduhan. Ia memimpin dengan teladan, memastikan bahwa modernisasi alutsista dilakukan dengan akuntabilitas tinggi meski di tengah keterbatasan anggaran pasca-krisis. Juwono adalah sosok yang disegani di forum internasional; suaranya yang tenang namun berisi sering kali menjadi penentu posisi Indonesia di panggung global. Ia membuktikan bahwa untuk menjaga pertahanan negara, seseorang tidak harus mengenakan seragam loreng, tetapi harus memiliki pemikiran yang melampaui batas-batas teritori.
Bagi dunia pendidikan, ia adalah Sang Begawan. Ribuan diplomat dan pengamat pertahanan lahir dari pemikirannya yang tajam namun penuh tata krama. Kepergiannya meninggalkan lubang besar dalam studi strategis nasional. Namun, filosofi yang ia tanamkan—bahwa pertahanan adalah soal menjaga martabat bangsa di mata dunia—akan tetap menjadi kompas bagi generasi penerus di Lapangan Banteng dan Mabes TNI.
The Juwono Sudarsono Legacy
Analisis terhadap kontribusi strategis Prof. Juwono Sudarsono bagi pertahanan nasional:
Vonis Redaksi: Selamat Jalan, Penjaga Kedaulatan Tanpa Senjata
Juwono Sudarsono telah menyelesaikan tugasnya dengan sangat baik. Ia mewariskan sebuah institusi pertahanan yang lebih modern, lebih terbuka, dan lebih menghormati nilai-nilai demokrasi. GetNews memberikan penghormatan tertinggi kepada Sang Profesor: seorang menteri yang mengajarkan kita bahwa kedaulatan sejati dimulai dari pikiran yang merdeka. Selamat jalan, Prof Juwono. Indonesia berutang rasa aman yang lebih bermartabat berkat tangan dingin Anda.




