SELAMAT DATANG di drama terbaru aliansi Barat, di mana Presiden Donald Trump baru saja menemukan kenyataan pahit: ternyata tidak semua orang mau diajak main petasan di gudang mesiu. Trump baru saja menyerukan misi militer ke Selat Hormuz untuk “menertibkan” kapal tanker, tapi jawaban dari Eropa sungguh sangat kompak: “Sori, kami lagi banyak urusan di rumah.” Dari Berlin sampai Helsinki, para pemimpin Benua Biru mendadak jadi pengikut aliran pasifisme. Sepertinya, bagi mereka, mengikuti ajakan perang Trump itu risikonya lebih besar daripada telat bayar cicilan pinjol.
Kanselir Jerman Friedrich Merz memimpin barisan penolakan ini dengan kalimat yang cukup menohok. Merz mengingatkan Trump bahwa NATO itu “Aliansi Pertahanan”, bukan “Aliansi Intervensi” apalagi “Aliansi Cari Penyakit”. Jerman dengan tegas bilang nein alias tidak untuk kirim tentara selama konflik masih membara tanpa konsep yang jelas. Merz seolah ingin bilang ke Washington: “Kalau mau berantem sama Iran, ya silakan sendiri, jangan ajak-ajak kami yang lagi pusing ngurusin energi.”
“Trump ingin Eropa jadi ‘bodyguard’ di Hormuz, tapi Eropa lebih memilih jadi ‘penonton layar kaca’. Ternyata, tidak semua sekutu mau diajak nyemplung ke sumur cuma karena Paman Sam merasa kepanasan.”— AMBARA SATIRE INDEX
Pemandangan di Brussels juga tak kalah menarik. Kaja Kallas, Kepala Kebijakan Luar Negeri UE, dengan santai bilang kalau Selat Hormuz itu “Bukan Perang Eropa”. Sebuah kalimat pendek yang rasanya seperti tamparan bolak-balik buat Gedung Putih. Uni Eropa lebih memilih jalur diplomatik daripada harus memperluas misi angkatan laut “Aspides” mereka ke wilayah yang level bahayanya sudah setara dengan kandang singa kelaparan. Portugal bahkan lebih galak lagi; Menlu Paulo Rangel menyebut ancaman Trump soal negara NATO yang nggak mau bantu itu “sama sekali tidak layak untuk ditanggapi”. Pedas, bung!
Yang paling ikonik tentu saja sindiran Trump ke Inggris. Trump sempat “curhat” ke media kalau London itu nggak mau turun tangan pas lagi bahaya-bahayanya, dan baru muncul pas keadaan sudah agak adem. Tapi PM Keir Starmer tetap teguh pada pendiriannya: navigasi memang harus dipulihkan, tapi jangan harap ini jadi “Misi NATO”. Dari Polandia sampai Finlandia, alasannya macam-macam, dari mulai nggak punya sumber daya sampai fokus yang lagi terbagi. Intinya satu: mereka nggak mau terjebak dalam perang yang oleh pengamat disebut sebagai perang yang “dilancarkan secara ilegal oleh AS dan Israel”.
Fenomena ini membuktikan bahwa pesona “Polisi Dunia” milik AS mulai luntur di mata sekutu terdekatnya. Eropa sadar betul bahwa ikut campur di Selat Hormuz saat ini sama saja dengan bunuh diri diplomatik dan ekonomi. Mereka melihat AS melancarkan perang tanpa pertimbangan matang, dan mereka nggak mau jadi “tumbal” buat ambisi yang logikanya—meminjam kata Jeffrey Sachs—sudah hanyut entah ke mana. Ternyata, dalam urusan perang, solidaritas NATO itu ada batasnya, terutama kalau batasnya adalah Selat Hormuz yang airnya lagi mendidih.




