“Venezuela memiliki 303,2 miliar barel minyak—setara dengan 19,4% cadangan dunia. Di mata Donald Trump, ini bukan sekadar statistik energi, melainkan undangan pesta yang tak boleh dilewatkan. Ketika Amerika bicara soal ‘kebebasan’ di Caracas, mungkin yang mereka maksud adalah kebebasan untuk mengebor. GETNEWS mengaudit bagaimana aroma minyak bisa membuat hukum internasional mendadak ‘anosmia’ (hilang penciuman).”
Donald Trump mungkin terlihat sedang sibuk mengurus Greenland, tapi mata aslinya tidak pernah benar-benar berpaling dari Venezuela. Mengapa? Karena Venezuela nyaris tak tertandingi dalam hal “harta karun” hitam. Dengan 303,2 miliar barel minyak di bawah tanahnya, Venezuela secara teknis adalah “pom bensin” terbesar di planet ini, mengalahkan Arab Saudi dan Iran.
1. Bau Minyak, Rasa Kebebasan
Bagi paman Sam, minyak adalah bahasa cinta. Ketika Trump memberikan sanksi atau ancaman intervensi, narasi yang dibangun selalu soal “penyelamatan demokrasi”. Tapi mari kita jujur secara satire: Amerika Serikat jarang sekali bersemangat menyelamatkan demokrasi di negara yang hanya mengekspor pisang atau kerajinan tangan. Jika Anda punya 19,4% minyak global, Anda otomatis masuk dalam daftar “Negara yang Butuh Diselamatkan (Minyaknya)”.
2. Greenland Hanya “Appetizer”, Venezuela adalah “Main Course”
Jika ketertarikan Trump pada Greenland dianggap gila oleh Denmark, maka pendekatannya pada Venezuela adalah strategi bisnis yang riil. Transisi energi global mungkin sedang digaungkan, tapi selama tank-tank dan jet tempur masih butuh bahan bakar fosil, Venezuela akan selalu menjadi “Gadis Cantik” yang ingin dipinang paksa oleh Washington.
3. Hukum Internasional: Aturan yang Bisa Diatur
Hukum PBB hanya berlaku bagi mereka yang tidak punya cukup minyak untuk menyuap sejarah. Israel dan Amerika Serikat berulang kali membuktikan bahwa kedaulatan negara lain hanyalah hambatan kecil bagi kepentingan nasional mereka. Di Venezuela, hukum internasional tampak seperti wasit sepak bola yang peluitnya mendadak macet saat tim besar melakukan pelanggaran di kotak penalti.
GET !NSIGHT: The “Black Gold” Audit Index
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling siap memanfaatkan cadangan ini di tengah transisi energi, melainkan: Siapa yang punya nyali (dan militer) paling besar untuk mengklaimnya? Di dunia Trump, kedaulatan hanyalah masalah harga. Dan untuk 303 miliar barel, harganya mungkin adalah harga diri hukum internasional itu sendiri.




