“Home Affairs Minister Tito Karnavian has issued a high-priority directive to Aceh’s regional leaders, identifying real-time data accuracy as the critical bottleneck in post-disaster recovery. The Ministry’s strategy emphasizes a decentralized verification process led by village heads to expedite the disbursement of over 213,000 housing aid units. This ‘Data-First’ approach is designed to trigger immediate financial support from BNPB and the Ministry of Social Affairs, aiming to reduce the refugee population by 60% through targeted social and economic rehabilitation.”
ACEH TAMIANG, getnews. — Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian memberikan instruksi keras kepada para kepala daerah di Aceh untuk segera merampungkan pendataan rumah terdampak bencana. Dalam rapat koordinasi bersama Presiden Prabowo Subianto di Aceh Tamiang, Kamis (1/1/2026), Tito menegaskan bahwa data dari Bupati dan Wali Kota adalah “kunci pembuka” tersalurnya bantuan hunian dari pusat.
”Mohon kalau bisa lebih cepat lagi karena jangan sampai masyarakat menyalahkan pemerintah karena tidak cepat. Padahal pemerintah menunggu data itu,” tegas Tito.
Skema Bantuan Berbasis Klasifikasi Kerusakan
Pemerintah telah menyiapkan plafon bantuan yang signifikan, namun pencairannya sepenuhnya bergantung pada validasi data kategori kerusakan rumah.
| Kategori Kerusakan | Bantuan Hunian (BNPB) | Bantuan Tambahan (Kemsos) |
|---|---|---|
| Rusak Ringan | Rp15 Juta | Isi Rumah: Rp3 Juta |
| Rusak Sedang | Rp30 Juta | Pemulihan Ekonomi: Rp5 Juta |
| Rusak Berat / Hilang | Penggantian Hunian / DTH | Pendampingan Total |
Terobosan Administrasi: Pendataan Berbasis Kepala Kampung
Menyadari banyaknya warga yang kehilangan dokumen kependudukan, Mendagri memerintahkan skema percepatan:
- Kepala Kampung menyusun daftar kerusakan rumah.
- Bupati melakukan verifikasi akhir.
- Kapolres & Kajari melakukan pendampingan dan cross-check (Penandatanganan Tiga Pihak).
Mendagri optimis jika pendataan rumah rusak ringan dan sedang bisa tuntas cepat, maka sekitar 60 persen pengungsi dapat segera kembali ke kediaman mereka, mengurangi beban sosial di posko pengungsian secara signifikan. Sebagai perbandingan, Tapanuli Selatan telah berhasil menekan jumlah pengungsi dari 21 ribu menjadi 4 ribu jiwa berkat akurasi data yang cepat.
Foto cover : Rumah Hunian Sementara (Huntara) Foto. Dok. Waskita / infopublik.id




