JIKA ADA KOMPETISI untuk mengumpulkan frequent flyer miles di kalangan kepala negara di seluruh dunia, Presiden Prabowo Subianto dipastikan akan melenggang santai membawa pulang piala utamanya. Setelah beberapa waktu lalu dengan bangga mengklaim dirinya sangat dihormati dalam setiap lawatan internasional, catatan perjalanan sang presiden kini justru memicu semprit peringatan dari diplomat senior dalam negeri.
Pendiri sekaligus Ketua Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, mendadak muncul ke publik untuk membagikan resep jamu pahit terkait hobi baru istana yang sangat gemar terbang melintasi benua. Melalui akun Instagram resminya pada Sabtu (30/5/2026), mantan Wakil Menteri Luar Negeri ini menyuguhkan sebuah kalkulasi matematis yang cukup mencengangkan publik.
Satu dari Enam Hari di Atas Awan: Rekor Dunia yang Tidak Lazim
Menurut hitung-hitungan tim FPCI, dalam skala global, Presiden Prabowo telah resmi menobatkan dirinya sebagai kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan ke luar negeri di antara seluruh pemimpin dunia saat ini. Angkanya tidak main-main: sejak resmi dilantik menjadi orang nomor satu di Republik ini, satu dari setiap enam hari waktu kerjanya habis dihabiskan di luar negeri.
Sebuah rasio yang membuat Dino Patti Djalal tidak ragu untuk melontarkan kritik halus namun menusuk: “Tidak heran kalau ada yang beranggapan bahwa ini tidak lazim dan di luar batas kewajaran.”
Bagi Dino, diplomasi internasional memang barang penting—apalagi Indonesia baru saja memperluas jangkauan pengaruhnya di forum global. Namun, di tengah kondisi negara yang sedang tidak baik-baik saja, efektivitas, transparansi, serta efisiensi anggaran biaya negara harus tetap menjadi jangkar utama. Dino mengusulkan agar istana mulai melek teknologi dengan memaksimalkan komunikasi virtual, menyusun pertemuan yang jauh lebih terencana, serta mengembalikan panggung utama diplomasi kepada Menteri Luar Negeri, bukan semua hal harus diurus langsung oleh sang panglima tertinggi.
Kontras Karpet Merah vs Penumpang “Bus Tua” yang Meriang
Kritik tajam dari FPCI ini seolah mempertegas kontras ironis yang belakangan menjadi sorotan tajam di media sosial. Di satu sisi, kita melihat seorang presiden yang sangat sibuk menikmati karpet merah internasional dan mengumpulkan penghormatan dari para pemimpin dunia. Namun di sisi lain, saat presiden berada di atas awan, “bus tua” bernama Republik yang ditinggalkannya di bawah justru sedang mengalami bau kopling terbakar yang luar biasa menyengat, mirip seperti bait puisi Rektor UII tempo hari.
Bagaimana tidak, laporan dari lembaga pemeringkat ekonomi dunia seperti Forbes Advisor baru saja menempatkan rupiah kita di peringkat ke-5 mata uang terlemah di dunia akibat himpitan ganda moneter global dan kerapuan struktural domestik. Ditambah lagi dengan amarah presiden sendiri soal kebocoran ekspor komoditas melalui under invoicing yang menembus Rp16.000 triliun.
Melihat realitas domestik yang sedang babak belur ini, publik tentu mulai bertanya-tanya: untuk apa mengumpulkan rasa hormat dari para pemimpin asing di luar negeri jika di dalam negeri, rakyatnya sedang sibuk bertahan hidup di antara tumpukan cicilan dan hantaman inflasi barang impor?
Kurangi Terbang, Perbanyak Sidang Kabinet
Saran dari Dino Patti Djalal adalah alarm pengingat yang sangat rasional bagi istana. Menyerahkan urusan teknis diplomasi kepada Menlu Sugiono dan mulai memanfaatkan aplikasi Zoom atau Microsoft Teams jelas jauh lebih hemat anggaran ketimbang harus menerbangkan pesawat kepresidenan beserta rombongan jumbo setiap minggu.
Sudah saatnya Pak Presiden mengurangi jam terbangnya di langit internasional dan mulai memperbanyak jam duduk di ruang sidang kabinet bersama tim ekonominya. Sebab, mengawal ketat kinerja BUMN baru PT Danantara Sumberdaya Indonesia agar benar-benar bisa menyumbat kebocoran devisa hasil ekspor jauh lebih mendesak hari ini, ketimbang sibuk menghadiri jamuan makan malam formal di belahan bumi lain.
Biar bagaimanapun, pemilik sah dari bus Republik ini adalah rakyat kecil yang kemarin terharu mendengar pidato Anda—dan mereka saat ini sedang sangat membutuhkan sopirnya ada di balik kemudi, bukan sedang asyik pelesiran diplomatik di atas awan.




