AMBARA

Diplomasi Monopoli: Gaza, Freeport, dan Akrobat Prabowo di Washington

Area PT Freeport Indonesia (Pinterest @Dimas Amanda Putra)

Kalau ada penghargaan untuk “Pemain Dua Kaki Terbaik 2026”, Pak Prabowo Subianto jelas kandidat terkuatnya. Bayangkan saja, dalam satu paket kunjungan ke Washington, beliau berhasil melakukan dua hal yang kelihatannya kontradiktif tapi sebenarnya sangat… bisnis.

​Pertama, beliau duduk manis di samping Donald Trump dalam peresmian Board of Peace (Dewan Perdamaian). Ini adalah forum yang isinya “arisan” perdamaian buat Gaza senilai USD 5 Miliar (sekitar Rp78 Triliun). Pak Trump, dengan gaya khas pengusaha properti, ingin membangun kembali Gaza. Mungkin beliau pikir, kalau Gaza damai, nilai real estat di sana bisa naik.

​Dan Indonesia? Kita dengan gagah jadi salah satu dari 26 anggota tetap. Keren? Jelas. Punya panggung dunia? Pasti. Tapi, seperti kata orang bijak: “There’s no such thing as a free lunch,” atau dalam bahasa kita: “Nggak ada perdamaian yang gratis, Lur.”

Emas Papua di Sela-sela Doa untuk Gaza

​Nah, di sinilah letak kecerdikan (atau kelicikan, tergantung siapa yang Anda tanya) diplomasi kita. Di sela-sela kesibukan membahas nasib rakyat Gaza, Pak Prabowo menyempatkan diri mampir ke acara Kadin AS. Di sana, sebuah dokumen sakral diteken: Perpanjangan izin operasi Freeport pasca-2041.

​Ini adalah plot twist yang sangat cantik. Di panggung depan (Board of Peace), kita bicara kemanusiaan. Di panggung belakang (Kadin AS), kita bicara kepastian emas. Trump dapat dukungan moral dari negara Muslim terbesar di dunia untuk forum barunya, dan sebagai imbalannya, perusahaan emas raksasa kebanggaan Amerika dapat izin nambang sampai cucu kita memiliki cucu.

Strategic Audit: The Great Deal Breakdown

Objek TransaksiAnalisis GetNews (Versi Rakyat)
Board of Peace (Gaza)Investasi Citra. Indonesia dapat posisi mentereng sebagai juru damai. Trump dapat legitimasi bahwa forumnya bukan sekadar “Geng Barat”.
Perpanjangan FreeportKepastian Dapur. Amankan aliran royalti dan saham (61%?) jangka panjang. Amerika tenang, kita pun senang (walau Papua mungkin agak pusing).
Posisi Uni EropaPenonton Kecewa. Jerman dan Perancis cuma bisa melongo dari Brussels melihat Trump dan Prabowo asik bagi-bagi peran tanpa nunggu restu PBB.

Vonis Akhir: Sante, Bro!

​Dunia ini memang panggung sandiwara, tapi kalau sutradaranya sekelas Trump dan aktornya sepengalaman Prabowo, hasilnya ya begini: Efisien dan pragmatis. Secara The Economist, ini adalah diversifikasi aset diplomatik yang brilian. Secara Mojok, ini adalah gaya “Simbiosis Mutualisme”: AS dapat tembaga dan dukungan politik, kita dapat panggung dunia dan kepastian investasi.

​Jadi, kalau nanti Gaza benar-benar damai dan Freeport makin jaya, jangan kaget. Memang begitulah cara kerja dunia kalau orang-orang pinter (dan kaya) sudah duduk satu meja. Kita sebagai rakyat? Ya cukup mantau sambil ngopi, syukuri saham Freeport makin banyak, dan doakan semoga anak-anak di Gaza beneran bisa main bola lagi tanpa suara bom. Sante!

Further reading: Indonesia dan Tujuh Negara Muslim Kecam Klaim Sepihak Israel atas Tepi Barat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *