NUSA TENGGARA BARAT sedang melakukan rekayasa ulang terhadap “genetik” ekonomi peternakannya. Dalam satu tahun kepemimpinan Lalu Muhamad Iqbal dan Indah Dhamayanti Putri (Iqbal–Dinda), Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak lagi puas hanya menjadi lumbung sapi hidup bagi Jakarta atau Kalimantan. Melalui peluncuran Program Hilirisasi Ayam Terintegrasi di Sumbawa pada awal 2026, Mataram sedang mencoba memutus rantai ketergantungan pada produk olahan luar daerah dan membangun kedaulatan protein dari hulu hingga ke hilir.
Kinerja tahun 2025 memberikan fondasi yang solid: surplus daging ruminansia sebesar 1.678 ton dan daging unggas 1.860 ton adalah bukti bahwa kapasitas produksi domestik NTB berada di atas rata-rata nasional. Namun, tantangan sesungguhnya bukan lagi pada jumlah populasi, melainkan pada bagaimana NTB mengonversi surplus tersebut menjadi nilai tambah ekonomi dan lapangan kerja melalui industrialisasi.
Audit Strategis: Transformasi Peternakan NTB 2025–2026
Analisis ini membedah pergeseran postur peternakan NTB dari penyedia bahan mentah menuju pusat pengolahan protein terintegrasi.
Diplomasi Kapal dan Efisiensi Rantai Pasok
Lonjakan pemanfaatan kapal ternak hingga 455% bukan sekadar keberhasilan teknis, melainkan kemenangan diplomasi logistik. Dengan meniadakan mekanisme deviasi dan memiliki rute tetap menuju pasar strategis seperti Banjarmasin dan Jakarta, peternak NTB kini memiliki daya tawar yang lebih kompetitif. Kemampuan ini, ditambah dengan keberhasilan “nol kasus” pemotongan betina produktif, memastikan bahwa mesin produksi ternak NTB akan tetap berputar kencang untuk dekade mendatang.
Hilirisasi: Menjawab Tantangan MBG
Kehadiran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah pisau bermata dua. Ia menuntut pasokan protein masif, namun juga menawarkan kepastian pasar (offtaker). Program Hilirisasi Ayam Terintegrasi di Kabupaten Sumbawa adalah jawaban cerdas Iqbal–Dinda: mengubah tantangan logistik menjadi industri karkas, sosis, hingga tepung telur. Ini bukan lagi soal memelihara ayam, tapi soal mengelola ekosistem industri yang mampu menyerap 1.300 tenaga kerja per klaster.
Vonis Strategis:
Satu tahun pertama Iqbal–Dinda telah berhasil menjaga “perut” masyarakat melalui surplus pangan dan menjaga “pintu” melalui biosekuriti yang ketat. Namun, ujian sesungguhnya bagi narasi transformasi ini terletak pada kecepatan eksekusi pabrik pengolahan di Sumbawa. Jika hilirisasi ini berhasil, NTB akan berhenti menjadi penonton di pasar produk olahan nasional dan resmi menjadi pemain utama industri protein di Indonesia Timur.
Baca juga: Tragis! Perputaran Uang di Dapur MBG Jauh Lebih Besar Ketimbang di Pemerintahan
BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:
Geger Aula Tambora: Saat 392 Pejabat NTB Harus “Log Out” Berjamaah



