DALAM perdebatan panjang mengenai ketetapan Ilahi, sering kali manusia terjebak pada sikap pasrah yang pasif atau ambisi yang memaksa. Syekh Al-Qalyubi dalam kitab An-Nawadir membuka cakrawala baru: doa bukan sekadar ritual penenang hati, melainkan sebuah seni menawar kepada Sang Maha Pemberi. Takdir memang tertulis di Lauhul Mahfuzh, namun dialog yang dibangun melalui ketulusan mampu menjadi alasan bagi Allah untuk merevisi ketetapan-Nya.
Secara teologis, konsep ini sejalan dengan hadis Rasulullah ﷺ yang menegaskan kekuatan doa sebagai satu-satunya instrumen yang mampu menembus batas takdir:
لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلَّا الدُّعَاءُ
“Tidak ada yang dapat menolak takdir (qadha) kecuali doa.” — HR. Tirmidzi
Pecahan Kontemplasi: Menawar dengan Amal dan Ketulusan
1. Kekuatan Negosiasi Spiritual dalam Rumah Tangga
Kisah lelaki saleh yang diberi pilihan antara kaya di masa muda atau tua memberikan pelajaran berharga. Pilihan awal manusia sering kali terbatas oleh logika pribadinya. Namun, ketika sang istri mengajak untuk “menawar” takdir melalui ketaatan dan ikhlas bersama, Allah menghapus dikotomi tersebut dan memberikan keberkahan sepanjang usia. Kekayaan itu hadir bukan karena pilihan awal, melainkan karena tekad untuk beramal secara konsisten.
2. Keberanian Melepaskan (The Power of Letting Go)
Dzun Nun Al-Mishri dan putrinya mengajarkan bentuk penawaran yang berbeda: melepaskan ikan hasil tangkapan karena menghargai dzikir sang makhluk. Tawakal dalam keheningan total ini dijawab Allah dengan rezeki dari langit selama belas tahun. Ini membuktikan bahwa saat kita berani melepaskan sesuatu demi Allah, Allah akan mengambil alih urusan pemenuhan kebutuhan kita.
3. Dialog sebagai Hak Istimewa Hamba
Bukan berarti takdir itu salah atau cacat, melainkan manusia diberi kuasa untuk berdialog dengan Penciptanya. Ikhtiar, doa, dan kesabaran adalah “alat tawar” yang legal dalam syariat. Allah mengizinkan hamba-Nya untuk aktif dalam proses penentuan hidupnya, asalkan niat yang melandasi bukanlah keserakahan, melainkan upaya mendekatkan diri (taqarrub).
4. Tinta Takdir yang Tidak Pernah Kering
Secara filosofis, kita diajak untuk melihat takdir sebagai sesuatu yang dinamis dalam cakrawala ilmu-Nya. Selama nyawa masih di kandung badan, peluang untuk merevisi garis hidup melalui keikhlasan dan tobat tetap terbuka lebar. Pasrah tanpa usaha bukanlah ketundukan, melainkan kesia-siaan.
| Elemen Penawaran | Paradigma Pasif (Statik) | Paradigma Aktif (OASE) |
|---|---|---|
| Memahami Doa | Hanya sekadar ritual rutin tanpa harapan perubahan. | Seni membangun relasi & berdialog dengan Pencipta. |
| Sikap Terhadap Takdir | Menerima apa adanya tanpa ada upaya revisi batin. | Percaya bahwa keikhlasan mampu mengubah ketetapan. |
| Esensi Ikhtiar | Bekerja keras demi ambisi materi semata. | Menawar takdir dengan amal shaleh yang tulus. |
Vonis Nurani: Seni Menawar Takdir
Masihkah Anda menerima keadaan begitu saja dengan dalih takdir, sementara Allah telah memberikan “pena” berupa doa dan keikhlasan untuk ikut mewarnai jalan hidup? Belajarlah dari Syekh Al-Qalyubi: takdir memang tertulis, tetapi tintanya tidak pernah kering bagi mereka yang berani mengetuk pintu langit dengan air mata ketulusan.




