AMBARA GET !NSIGHT

Benjamin Netanyahu dan Ironi Dewan Perdamaian

Netanyahu Daftar Anggota Board of Peae (x netanyahu)

​KELOMPOK U.S. Democratic Socialists (DSA) baru saja melempar bom narasi yang bikin gedung putih gemetar. Mereka menyamakan penunjukan Benjamin Netanyahu ke dalam mekanisme perdamaian dengan menunjuk mendiang Jeffrey Epstein untuk menjalankan tempat penitipan anak. Sebuah analogi yang kejam, brutal, dan tentu saja, sangat “nyelekit”. Sante, Lur! Ini bukan sekadar urusan benci atau suka, tapi soal krisis kredibilitas institusi internasional yang hobi mencampuradukkan “serigala” ke dalam rapat “domba”.

​Secara geopolitik, analogi ini menampar wajah diplomasi Barat yang sering kali memakai standar ganda sebagai alat rias. Memasukkan pemimpin yang catatan konflik dan kebijakan pendudukannya sedang digugat di Mahkamah Internasional (ICJ) ke dalam sebuah dewan yang mengurusi kedamaian, memang terdengar seperti lelucon gelap. DSA ingin menegaskan bahwa perdamaian bukan sekadar absennya dentuman bom, melainkan soal siapa yang memegang kendali atas narasi keadilan tersebut.

​Audit Strategis: Paradox Kepemimpinan dan Kredibilitas Institusi

​Analisis ini membedah risiko reputasi bagi lembaga internasional saat menunjuk tokoh kontroversial dalam posisi strategis.

Strategic Audit: Global Diplomacy Paradox

Subjek / AnalogiKonteks KritikVonis Mojok-nomist
Benjamin NetanyahuRekam jejak militeristik & tuduhan genosida di Gaza.CREDIBILITY DEFICIT
Jeffrey Epstein (Analogi)Simbol pengkhianatan kepercayaan & predator.ULTIMATE SATIRE
Dewan PerdamaianFungsi normatif sebagai penjaga keadilan global.INSTITUTIONAL FARCE

Etika yang Terlupakan dalam Realpolitik

​Dunia politik internasional memang panggung sandiwara yang hebat. Tapi, Sante, Lur! Analogi DSA ini mengingatkan kita bahwa ada garis tipis antara “pragmatisme politik” dan “penghinaan terhadap akal sehat”. Menjadikan aktor utama dalam sebuah konflik sebagai penengah perdamaian adalah resep sempurna untuk sebuah kegagalan yang direncanakan. Ibarat menyuruh maling untuk ikut rapat merancang keamanan kompleks; hasilnya pasti akan menguntungkan si maling, bukan para tetangga yang cemas.

Vonis Strategis:

Kritik DSA adalah pengingat bahwa institusi global seperti Dewan Keamanan atau badan perdamaian lainnya sedang mengalami pembusukan moral. Jika kepemimpinan dunia hanya didasarkan pada kekuatan senjata dan pengaruh lobi, maka istilah “perdamaian” hanyalah kata kosong yang dipakai untuk membungkus kepentingan sempit. Sante saja dulu, biarkan sindiran ini menggema di media sosial, karena terkadang satir jauh lebih jujur daripada siaran pers resmi dari kementerian luar negeri mana pun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *